3 Februari 2016

[REVIEW] EVERLASTING by AYU GABRIEL

Diposting oleh Unknown di 2:28:00 PM
Judul: Everlasting
Penulis: Ayu Gabriel
Editor: Herlina P. Dewi
Proofreader: Tikah Kumala
Penerbit: Stiletto Book
ISBN: 978-602-7572-25-6
Tahun Terbit: 2014
Tebal Buku: 330 halaman
Genre: Romance
 
Kayla, 22 tahun, jatuh cinta kepada Aidan. Setiap kali Aidan yang punya bokong seksi itu lewat di depannya, Kayla langsung blingsatan. Namun, Kayla tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan perasaannya karena Aidan adalah bos di kantornya -usianya lebih tua 11 tahun-. Ia hanya bisa mengamati dari jauh secara diam-diam sambil mencatat semua hal tentang Aidan di sebuah buku rahasia.
Dengan bantuan Pira, sahabat baiknya, Kayla mulai berusaha mendapatkan cinta Aidan. Kayla pun mengubah dirinya menjadi perempuan impian Aidan: mengubah potongan rambutnya, menato tubuhnya, sampai mengubah selera musiknya.
Ketika Kayla sedang berusaha merebut hati bosnya itu, Dylan, cinta pertama Kayla, tiba-tiba muncul. Kayla sebenarnya sudah lupa siapa Dylan karena dia bersumpah untuk tidak mengingatnya lagi semenjak Dylan dan keluarganya pindah dari Jakarta, 10 tahun lalu.
Keinginannya terkabul. Ia tidak ingat sama sekali tentang Dylan atau cinta mereka. Dylan pun memutuskan untuk mendapatkan kembali cinta Kayla yang ia yakini masih bersemayam di hati gadis itu kalau saja ia bisa mengingatnya.
 
Tagline: Cinta Tak Akan Pernah Lupa
Word Of the day: Saus Kacang
 
Dylan menatapku sejenak kemudian memberi isyarat agar aku mendekat. Aku mencondongkan tubuhku. "Aku rasa nggak perlu waktu selama itu untuk jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepadanya bahkan sebelum aku menyadari kalau aku jatuh cinta. Aku selalu merasa ingin menghabiskan waktuku bersamanya. Aku merasa bahagia hanya dengan berada di dekatnya, melihatnya, menyentuhnya atau sekadar mendengar suaranya. Keberadaannya membuat hidupku jadi lebih berharga. Aku bangun setiap hari dan siap menghadapi dunia karena aku tahu dia menjadi bagian di dalamnya." Katanya bersungguh-sungguh.
Aku menegakkan tubuhku, memandangnya tak berkedip. Pengakuan itu begitu intens. Dan meskipun aku tahu Dylan membicarakan orang lain, tapi tak urung juga jantungku berdebar-debar. Betapa beruntungnya orang yang dicintai seperti itu. Lantas kenapa cewek itu menolak cinta yang sedemikian kuat? Aku semakin penasaran.
 
 
Meet Kayla. Gadis muda berusia 22 tahun yang bekerja di perusahaan yang bergerak dalam bidang event organiser. Kayla digambarkan sebagai tokoh yang pintar, mandiri, inovatif, defensif, sedikit manja, agak keras kepala, dan kurang peka. Kayla jatuh cinta pada Aidan, bosnya. Dan Kayla harus bersaing dengan Jessica, yang dari awal Kayla bekerja di perusahaan itu sudah menunjukkan sikap tidak bersahabat. Ditambah lagi, Jessica terang-terangan menunjukkan kalau dia juga tertarik pada Aidan. Selama membaca novel ini, kita seolah sedang mendengarkan curhatan Kayla, karena novel ini bercerita dengan sudut pandang orang pertama yaitu Kayla. Aku agak sependapat dengan Pira dalam hal ketertarikan Kayla pada Aidan. Kayla tidak mau mencoba dekat dengan laki-laki lain seolah-olah sudah cinta mati dengan Aidan, tapi dari monolog-monolognya, Kayla terlihat seperti hanya naksir biasa saja, bahkan mungkin terobsesi. Gimana bisa bilang cinta sementara kita belum mengenal luar-dalam pria tersebut. Kategori jatuh cinta versi aku itu, kalau saling kenal, beberapa kali jalan bareng, mengenal pribadinya si pria dan merasakan kenyamanan. Tapi yang terjadi dengan Kayla dan Aidan adalah, nggak pernah berhubungan di luar kantor, obrolan hanya seputar pekerjaan, dan Kayla jatuh cinta dengan Aidan karena fisiknya -atau bokong seksinya- bukan karena kepribadian Aidan. Berbeda dengan Dylan. Meski sosoknya diceritakan dari sudut pandang seorang Kayla, tapi sebagai pembaca aku bisa merasakan kalau dia jatuh hati dengan Kayla. Sementara Kayla, nggak peka karena hatinya cuma sibuk memikirkan Aidan. Makanya aku cuma bisa mendengus saat Kayla beberapa kali berpikir cewek bodoh mana yang tidak membalas cinta Dylan. Dan, sumpah, dimana lagi bisa menemukan tipe laki-laki seperti Dylan ini, yang tetap setia dan optimis kalau cintanya akan kembali. Bukan cuma setia, tapi Dylan juga jatuh hati tanpa perlu syarat apapun. Sifatnya yang perhatian dan kadang suka menjahili Kayla begitu menggemaskan. Minta dicubit banget.
Sama seperti Pira, aku juga nggak setuju dengan pilihan Kayla untuk membuat tato hanya karena ucapan Aidan saat wawancara di majalah yang bilang kalau dia suka perempuan yang berani menerima tantangan. Membuat tato adalah contohnya. Padahal bisa saja itu hanya ucapan basa-basinya Aidan saja. Kurang pekanya Kayla juga saat dia beberapa kali mencoba mengajak Aidan lunch atau dinner, tapi tidak ditanggapi. Kayla cuma sibuk berpikir kalau Aidan tidak menyukainya dan berusaha mencari berbagai macam cara untuk mengajak Aidan kencan. Kenapa nggak terlintas di pikirannya kalau mungkin saja Aidan sudah punya pacar?
Dari segi penulisan, aku menyukai gaya menulisnya mbak Ayu. Di awal, monolog-monolog Kayla masih terasa biasa saja. Tapi semakin ke tengah sampai endingnya, aku mulai menikmati sampai dibikin tertawa dengan isi kepala atau kalimat yang keluar dari mulut Kayla. Masih ada beberapa typo sih, tapi masih bisa diabaikan. Adanya tokoh Pira dan Jessica menambah warna tersendiri dalam cerita. Pira benar-benar berperan sebagai sahabat yang baik. Mendukung Kayla, tapi tidak jarang menegurnya juga kalau dia salah. Dan Jessica memerankan sosok bitches dengan sempurna. Cara penulis menempatkan kedua tokoh pendukung tersebut, membuat jalan ceritanya tidak flat. Eksekusi di endingnya saja yang masih membuat aku bertanya-tanya, yang terjadi pada Kayla sampai dia melupakan Dylan dan keluarganya itu apakah karena amnesia, trauma, sakit hati? Tapi keseluruhan ceritanya enak untuk diikuti. Yah, bisa dibilang novel ini masuk dalam kategori 'novel sekali lahap dalam sekali duduk' versi aku. Ada satu lagi tips yang didapat dari novel ini. Pengen tahu kalau gebetan juga suka sama kamu? Kiss him, kalau dia membalas berarti dia juga suka. Karena ciuman nggak pernah bohong. Naaaaah lhoooooo :p
Aku suka pemilihan warna biru pada covernya, enak dilihat. Tapi aku nggak suka gambarnya, karena bikin novel ini jadi terkesan seperti buku anak-anak. Dan gambar sosok laki-laki dan perempuan di cover itu merusak ekspektasi aku mengenai gambaran sosok Kayla dan Dylan yang cantik dan ganteng. Novel ini bisa dibaca siapa saja, termasuk dedek-dedek dibawah 18 tahun karena tidak ada adegan yang belum pantas dibaca anak di bawah umur.

3 of a 5 Stars

0 komentar:

Posting Komentar

 

Mells Book's Shelves © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor