26 Februari 2015

Two Lost Souls ... Ketika Dua Hati Yang Hilang Saling Menemukan

Diposting oleh Mellisa Assa di 12:21:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Aku kalut karena tidak juga menemukan Edwin. Aku semakin kalut saat membayangkan beberapa bulan ke depan aku akan meninggalkan Melbourne … yang artinya harus benar-benar menutup kisahku dengan Edwin. –Alenna
Saat mereka berpelukan, aku merasa ada bola baseball yang menghantam wajahku dengan keras. Setelah itu, aku ada di lapangan hoki yang ternyata lapisan esnya retak, lalu longsor. Aku tenggelam. –Athian
Alenna datang ke Melbourne beberapa tahun lalu. Ia mengambil studi di sana dengan satu alasan kuat : menemukan Edwin. Sejak kedatangannya, tak pernah sekali pun ia melewatkan Melbourne Festival karena ia yakin ia akan menemukan Edwin disana.
Athian masih menunggu Gemma, mantan pacarnya, yang lebih memilih pergi ke Prancis untuk mengejar impiannya. Di tengah patah hati yang mendera, Athian bertemu Alenna yang menurutnya mirip Gemma.
Alenna dan Athian tidak menyadari … hati mereka sama-sama tersesat.

Judul                :   Two Lost Souls
Penulis             :   Pia Devina
Penerbit           :   PT Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul     :     Orkha Creative
ISBN                :   978-602-03-1235-4
Tebal                :   208 halaman ; 20 cm
Kategori           :   Young Adult, Romance

***

Aku memejamkan mata, menguntai memori-memori yang selalu bercerita tentang lelaki yang sama. Di usia 22 tahun, aku masih menunggu lelaki yang telah meninggalkanku ke Melbourne, bertahun-tahun lalu, saat kami masih duduk di kelas dua SMA. Dia menjadi satu-satunya alasan tiga tahun lalu aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di School Of Business and Economics, Melbourne University –yang lebih sering disebut Melbourne Uni- selepas lulus SMA. Aku ingin pergi ke Melbourne untuk bertemu Edwin-ku.
Melbourne adalah tujuanku. Tempat lelaki yang kurindukan berada. Walaupun nyatanya, aku tidak tahu dengan pasti di mana sekarang lelaki itu berada. Setahun setelah kepergian Edwin ke Melbourne, aku tak pernah mendengar kabar apa pun darinya. Aku nyaris putus asa, tetapi aku lebih memilih untuk menahan rinduku untuknya. Apakah perasaan ini akan bertahan? Hatiku … dan ingatanku … apakah akan selalu menggaungkan nama Edwin yang sampai saat ini tidak pernah berhenti aku rindukan? Tuhan … aku ingin bisa melihat orbit kisah cinta ini dengan jelas. Aku ingin menemukan pijakan untuk hatiku. – Alenna –
---
Aku masih ingat ekspresi kaget cewek itu saat menyodorkan tiket Portals, sepuluh menit yang lalu.
Sumpah, saat dia berekspresi seperti tadi, aku semakin merasa kalau dia adalah Gemma-ku.
Damn! Harusnya aku punya filter di dalam otakku yang bisa membedakan dengan jelas mana Gemma dan mana Alenna.
“Ya, we’ll find your boy.” Aku menetralkan nada suaraku, sekilas memandangi tiket yang ada di tangan Alenna. Sebenarnya aku juga sangsi. Mencari seseorang di festival besar semacam Melbourne Festival bukan perkara mudah. Tapi, ya … kenapa tidak aku coba? Hitung-hitung aku bersenang-senang datang ke sana bersama Gemma … eh, maksudku, Alenna. –Athian-
***
Yang terjadi pada Alenna dan Athian adalah CLBK alias cinta lama belum kelar. Dari judulnya sih aku nebaknya mungkin Alenna dan Athian menjalin hubungan karena unsur pelarian. Tapi ternyata aku salah. Ceritanya simpel aja sih, Alenna yang belum bisa melupakan cinta pertamanya Edwin, sampai nekat menyusul ke Melbourne untuk mencarinya. Dan di sana Alenna bertemu Athian, yang masih menyimpan cintanya untuk Gemma, mantan pacarnya yang lebih memilih karir daripada pacar. Dan Alenna mirip Gemma. Athian sendiri ingin memastikan rasa yang timbul setiap bersama Alenna itu apakah hanya karena Alenna mirip Gemma, atau sesungguhnya dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Alenna. Dan tiba-tiba Alenna kembali bertemu dengan Edwin, merajut kembali jalinan cinta yang terpisah jarak lima tahun lamanya. Meninggalkan Athian dan hatinya yang patah. Saat Alenna mengetahui kebenaran yang pahit mengenai Edwin, dan kembali dekat dengan Athian, Gemma kembali dari Prancis dan kembali membentangkan jarak antara Alenna dan Athian.

Cerita yang simpel tapi enak dinikmati karena kepiawaian Pia merangkai kata. Berlatar kota Melbourne, tapi kali ini Pia tidak melulu terpusat pada deskripsi penuh kota Melbourne. Deskripsi lokasi dan ceritanya kali ini seimbang. Pia masih menggunakan alur khas-nya di novel ini yakni maju-mundur. Dan novel ini juga bercerita dengan sudut pandang Alenna dan Athian.

Saat banyak yang bilang penulis cewek susah menulis dengan PoV cowok, aku sempat mikir, emang apa susahnya sih tinggal nulis doang? Tapi makin kesini aku mulai paham kalau memang nggak gampang menulis dengan PoV cowok karena kadang tanpa sadar pikiran cewek kita suka keluar. Dan kayaknya ini terjadi juga dengan Athian. Di scene dimana Athian mengunjungi apartemen Alenna dan mulai mendeskripsikan isi apartemennya. Pikiran cewek Pia keluar saat Athian bisa mengenali warna soft purple dengan detil.

Tapi keseluruhan ceritanya oke-oke saja menurutku, meski masih disertai typo. Novel ini pas dilabeli Young Adult karena temanya yang tidak berat tapi juga nggak too cheesy. Covernya juga eye catching, dengan gambar 2 pohon yang menyatu dan membentuk symbol hati, dilatari warna birunya langit dan hijaunya rerumputan.

Baca ceritanya dan kita akan larut dengan rangkaian kata Pia. Cerita simpel pun akan meninggalkan bekas begitu kita selesai membaca.
***
Suatu hari di akhir februari, lima bulan setelah pertemuan kami.
Deret waktu mungkin masih mengintip ke arahku. Menjadi saksi mata akan potongan-potongan adegan dalam rangkaian episode pencarianku. Lima tahun lamanya.
Periode panjang yang bagiku seringkali menyesakkan dada. Tapi, mungkin tidak, bila saat itu aku memutuskan untuk memecah harapan agar bisa menemukan arah, dan tidak menembus gelisah menuju Melbourne. Namun, mungkin aku tidak bisa menyesap seri ceritaku yang sekarang.
Lima tahun yang terbantahkan oleh waktu lima bulan.


3 of a 5 stars

13 Februari 2015

Book's Review : A Week Long Journey by Altami N.D

Diposting oleh Mellisa Assa di 11:06:00 AM 1 komentar Link ke posting ini

Judul : A Week Long Journey
Penulis : Altami N. D
Editor : Didiet Prihastuti
Proofreader : Lana
Desain Sampul : Eduard Iwan Mangopang
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-1299-6
Tebal : 256 halaman;20 cm
Kategori : Young Adult, Teens, Novel, Fiksi

SINOPSIS :

Lina Budiawan baru saja lulus SMA dan dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus masuk ke fakultas yang tidak sesuai dengan minatnya karena orangtuanya menganggap jurusan itu memiliki masa depan yang cerah dibanding passion-nya, menulis.

Namun, Lina tetap tidak rela melepaskan genggaman pada mimpinya. Ketika dia dikelililngi orang-orang yang terus-menerus bicara mengenai bidang yang tidak sedikit pun Lina minati, justru semakin erat dia mencengkeram obsesi menulisnya. Meski harus mengesampingkan keluarganya.

Hingga liburan selama seminggu di Hong Kong menguak semua rahasia dan cerita lama yang tidak pernah Lina ketahui tentang sejarah keluarganya. Lina pun harus berpikir ulang. Menjadi idealis atau realistis?

REVIEW :

”Banyak hal baru yang akan kita lewatkan kalau kita cuma stuck di satu poin, cuma stuck dengan pandangan seperti orang-orang kebanyakan. Kadang orang-orang terlalu mudah menyerah untuk mencari suatu makna yang tersembunyi di balik suatu hal…” Chen Zhang (Hal. 93)

Keinginan Lina untuk menjadi penulis terpaksa harus dia kubur dalam-dalam. Pengumuman SNMPTN yang menyatakan kalau dia lulus di fakultas Peternakan IPB sama sekali tidak membuat dirinya bahagia. Yang dia inginkan masuk ke fakultas Sastra, tapi sebagai anak tunggal Hartono Budiawan, salah satu pemilik peternakan ayam terbesar di Surabaya, dengan terpaksa dia harus mengubur keinginanannya. Lina jadi sering murung dan tetap menulis meski harus secara diam-diam. Semakin sering sang mama menekan dirinya untuk mulai rajin turun ke peternakan, semakin Lina ingin berontak. Dia pun berniat untuk memberikan kejutan pada keluarganya dengan melahirkan sebuah buku, untuk membuktikan kalau dia tidak hanya bermimpi.

Tapi liburan selama seminggu ke Hong Kong bersama beberapa pengusaha ternak ayam, perlahan mengubah jalan pikiran Lina. Dia bertemu dengan Chen Zhang yang usianya beberapa tahun diatasnya dan juga bertemu dengan Dewi dan Rita, gadis seusia dirinya. Tapi Lina harus menelan kekecewaan karena Dewi dan Rita yang enggan berteman dengannya, bahkan sepertinya mereka sangat membenci Lina tanpa dia tahu alasannya. Untung saja ada Chen Zhang yang mau berteman dengannya dan memotivasi dirinya. Perlahan terungkap alasan Dewi yang sangat membenci dirinya yang berkaitan dengan papanya. Dan berbekal dengan alamat yang ditulis di secarik kertas oleh mbah putri-nya, Lina jadi tahu sejarah keluarganya dan peternakan yang mereka miliki. Lina pun harus berpikir ulang untuk tetap melanjutkan mimpinya sebagai penulis, atau menuruti harapan keluarganya.
***
Pertama aku mau bilang selamaaaaaaat buat Al, finally yah ‘anak’ pertamanya lahir juga. Sebelum novel ini terbit, aku pernah membaca bab-bab awal yang sempat diposting penulis di akun wattpad miliknya. Tapi aku harus mengakui kalau aku tidak melanjutkan membaca karena deskripsi awal yang kepanjangan, dan isinya keluhan si Lina betapa dia nggak mau masuk ke fakultas Peternakan.

Tapi di bab-bab selanjutnya, ceritanya mulai mengalir dan dijamin nggak membosankan lagi. Aku menyelesaikan novel ini hanya dalam dua jam –disambi main hayday, ngelonin anak dll-. Melewati bab awal kita akan mulai menikmati jalan ceritanya. Ditambah gaya bahasanya yang enak, jadi bikin betah bacanya. Walau pun novel debut, tapi pemilihan kalimat dan gaya bahasanya jauh dari kaku. Konfliknya mungkin seperti yang dirasakan remaja yang baru lulus SMA pada umumnya. Inginnya begini, tapi keinginan orangtua begitu. Ingin tetap bertahan dan yakin dengan pilihan sendiri, sementara pilihan orangtua sudah pasti hasilnya di masa depan akan seperti apa. Karakter yang diciptakan penulis adalah karakter yang aku favoritkan. Lina hanya murung di awal cerita, tapi memasuki inti cerita kita akan tahu kalau Lina tidak selemah di bab awal, apalagi saat dia berkonfrontasi dengan Dewi. Chen Zhang juga muncul bagai oase di padang pasir. Saat Lina merasa sendiri, ada Chen Zhang yang datang menghiburnya, mengajaknya berteman sampai timbul benih cinta diantara mereka.

Banyak nilai positif yang bisa diambil dari novel ini. Bagaimana kita harus berdiri di depan membela keluarga kita sendiri tapi dengan cara yang benar. Seperti Dewi yang berniat membela harga diri ayahnya, tapi caranya salah. Dari apa yang Dewi alami, hal positif yang bisa kita petik adalah, jangan pernah menarik kesimpulan dari satu pihak saja atau menilai orang lain hanya dari sudut pandang sendiri, buntutnya bisa nggak enak. Novel ini juga mengajarkan kita untuk bisa berkomunikasi dengan baik dengan keluarga, dan betapa orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, tanpa harus memaksakan kehendak. Kita juga bisa belajar cara memaafkan dengan ikhlas seperti yang dilakukan Lina.

Berikut ini beberapa kutipan favorit aku :
- Dari sudut pandang yang lain, sesuatu yang sederhana bisa tampak lebih indah. (Hal. 92)
- Karena banyak yang kita lewatkan kalau kita cuma memandang sesuatu dari sudut saja. (Hal. 93)
- Kadang orang-orang terlalu mudah menyerah untuk mencari makna yang tersembunyi di balik suatu hal. (Hal. 93)
- Mimpi itu sederhana, yang rumit itu manusianya. (Hal. 94)
- I am a princess not because I have a prince, but because my father is a king. (Hal. 222)

Sayangnya ceritanya yang mengalir, yang diselingi kutipan-kutipan indah, seolah dirusak dengan typo yang bertebaran dimana-mana. Dalam review aku kali ini, aku harus mengkritik kerja tim editingnya. Bukan karena apa, tapi karena sudah menjadi tugas para pembaca untuk mengingatkan. Seolah-olah novel ini terbit tanpa melewati proses editing dan langsung dicetak jadi buku. Berikut daftar typo yang aku temukan :

- karakter itulah yang membuat Lina sering kesal. Huruf k dalam kata karakter harusnya kapital. (hal.18)
- mama, harusnya Mama. (hal. 20, 21)
- itumerupakan, harusnya itu merupakan (hal. 22)
- karena menjaga nama baik sangat penting. Huruf k pada kata karena harusnya kapital. (hal. 23)
- Makannya, harusnya makanya (hal. 57)
- berhasilmenguasai, harusnya berhasil menguasai (hal. 65)
- itudari, harusnya itu dari (hal. 66)
- Lina menjadi air hangat setelah ayi Jaya mandi. Menjadi harusnya mandi (hal. 74)
- tubuhnyanya, harusnya tubuhnya (hal. 79)
- Damn why it is si hard for me. Si harusnya so (hal. 131)
- Catetan, harusnya catatan (hal. 135)
- Catetanku, harusnya catatanku (hal. 139)
- Pemales, harusnya pemalas (hal. 156)
- “Tapi emang itu salah”, harusnya “Tapi emang itu salah?” (hal. 156)
- Menutunya, harusnya menutupnya (hal. 162)
- dia terimanya, harusnya dia terima (hal. 171)
- stasiunMTR, harusnya stasiun MTR (hal. 177)
- nenek-nenek, harusnya Nenek-nenek (hal. 185)
- lina, harusnya Lina (hal. 188)
- masa sih!, harusnya masih (hal. 198)
- maafatas, harusnya maaf atas (hal. 201)
- jangan itu dong! Harusnya jangan gitu dong! (hal. 206)
- “untuk menerima kesalahpahamannya selama ini, ujar Rita”. Harusnya “untuk menerima kesalahpahamannya selama ini,” ujar Rita. (hal, 209)
- yah Lina sendiri, harusnya ayah Lina sendiri. (hal. 211)
- papantanya, harusnya papanya (hal. 224)

Semoga untuk kedepannya bisa lebih teliti lagi. Memang tidak semua novel terbit dengan sempurna tanpa typo sama sekali. Tapi yang ada di novel ini typo-nya sudah memasuki level nyaris mengganggu. Tujuan aku memuat daftar typo dalam review ini juga bukan karena mencari-cari kesalahan, tapi sebagai kritik yang membangun agar supaya di cetakan selanjutnya typo bisa lebih minim lagi.

But overall, aku suka dengan ceritanya, karakternya dan cara penulis mendeskripsikan setiap tempat yang Lina singgahi di negeri Cina.


3 of a 5 stars.

11 Februari 2015

Book's Review : Happily Ever After by Winna Efendi

Diposting oleh Mellisa Assa di 3:41:00 PM 0 komentar Link ke posting ini


Judul : Happily Ever After
Penulis : Winna Efendi
Editor : Jia Effendi
Penerbit : Gagas Media
ISBN : 979-780-770-2
Tebal : 358 halaman
Kategori : Romance

SINOPSIS :
Tak ada yang kekal di dunia ini. Namun, perempuan itu percaya, kenangannya, akan tetap hidup dan ia akan terus melangkah ke depan dengan berani.
Ini adalah kisah tentang orang favoritku di dunia.
Dia yang penuh tawa. Dia yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Dia yang merupakan perpaduan aroma sengatan matahari dan embun pagi. Dia yang mengenalkanku pada dongeng-dongeng sebelum tidur setiap malam. Dia yang akhirnya membuatku tersadar, tidak semua dongeng berakhir bahagia.
Ini juga kisah aku dengan anak lelaki yang bermain tetris di bawah ranjang. Dia yang ke mana-mana membawa kamera Polaroid, menangkap tawa di antara kesedihan yang muram. Dia yang terpaksa melepaskan mimpinya, tetapi masih berani untuk memiliki harapan…
Keduanya menyadarkanku bahwa hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Bahwa kita perlu menjalaninya sebaik mungkin meski harapan hampir padam.
Tidak semua dongeng berakhir bahagia. Namun, barangkali kita memang harus cukup berani memilih; bagaimana akhir yang kita inginkan. Dan, percaya bahwa akhir bahagia memang ada meskipun tidak seperti yang kita duga.

REVIEW :
Lulu membenci dunia sekolah. Bukan karena PR atau ujian mendadaknya, tapi karena dia kesepian dan selalu menjadi korban bully. Yang lebih menyakitkan, Karina mantan sahabatnya termasuk salah satu yang mem-bully dirinya. Tapi di rumah, dia punya ayah yang hebat. Ayah yang membangun rumah unik untuk dirinya dan sang bunda. Ayah yang selalu membacakan cerita dongeng, walau pun tidak semua dongeng yang mereka baca berakhir bahagia. Seperti kehidupan Lulu yang diuji dengan sakitnya sang ayah. Meski pun berusaha untuk tegar, tapi Lulu tidak bisa menghindar dari luapan rasa sedih dan ketakutan kalau setiap saat ayahnya bisa pergi meninggalkan dia dan sang bunda.
Tapi selalu ada pelangi setelah hujan. Eli Gustira hadir di tengah kehidupannya. Sosok remaja yang dijumpainya di bawah kolong ranjang Rumah Sakit. Remaja biasa seperti dirinya, yang memiliki cita-cita untuk menjadi atlet renang, tapi kandas karena kanker otak. Eli yang selalu ceria, penuh optimisme yang sedikit demi sedikit menular pada Lulu. Berawal dari pertemanan biasa, kedekatan dan berujung pada satu rasa, cinta. Tapi saat Tuhan memanggil ayahnya kembali, Lulu meragu. Dia tidak ingin kembali merasakan kehilangan yang sama.
***
Hanya dalam jeda beberapa bulan, Winna kembali dengan novel yang temanya berbeda. Bukan lagi sahabat jadi cinta, melainkan ikatan istimewa antara seorang ayah dan anak, dan kisah asmara dua remaja yang nyaris memiliki kesamaan. Di awal membaca, berasa sedang membaca novel terjemahan. Seperti biasa, kalimat yang dirangkai Winna selalu indah dan quotable. Meninggalkan rasa haru yang dalam dan ketegaran begitu cerita berakhir.

Di setiap bab, Winna menyelipkan kutipan-kutipan dari buku-buku dongeng. Karakter-karakter yang dia ciptakan dalam novel ini mengajarkan kita bagaimana untuk tegar menghadapi setiap masalah dan segala hal negatif yang ditudingkan pada diri kita.  Dan yang selalu aku suka dari novel-novel Winna adalah lokasi/tempat bermukim setiap karakter yang dia ciptakan sesuai imajinasinya sendiri. Winna tidak mendeskripsikan tempat yang ada di dunia nyata, tapi merangkai sendiri tempat sesuai keinginannya. Seperti rumah Lulu, dan kompleks tempat Lulu tinggal, juga sekolahnya. Setiap kalimat yang diuntai Winna, membuat aku ikut hanyut dalam cerita. Penulisannya seperti biasa, khas Winna banget, rapih dengan deskripsi yang detil. Ditambah aku tidak menemukan kesalahan penulisan huruf.

Berikut ini kutipan yang aku favoritkan dari novel ini :
-      Hidup adalah sebuah hak istimewa. Karenanya kita perlu melakukan kewajiban kita untuk menjalaninya sebaik mungkin. (Halaman 99)
-      Jatuh cinta itu nggak pake milih. Nggak milih waktu yang tepat atau momen yang pas. tahu-tahu, kamu udah jatuh cinta. (Halaman 105)
-      Hidup terlalu singkat untuk cuma punya satu tempat favorit. (Halaman 119)
-      Di luar kondisi semacam ini, kita akan tetap berteman. Sesimpel itu. (Halaman 134)
-      Di dunia ini, nggak semua orang dapetin apa yang mereka mau.” (Halaman 140)
-      Hati yang melihat, hati yang merasakan, hati yang tahu. (Halaman 145)
-      Kadang-kadang, kita cukup beruntung untuk ketemu orang-orang yang baik dalam kondisi yang buruk. (Halaman 149)
-      Aku ingin menjadi diriku sendiri, dan untuk itu aku tak memerlukan izin mereka. (Halaman 170)
-      Kita boleh memiliki mimpi-mimpi yang baru meskipun apa yang paling kita inginkan nggak tercapai. (Halaman 176)
-      Nggak semua cerita punya akhir yang bahagia. Begitu pula hidup. Bahkan, sering kali hidup punya kejutan sendiri. (Halaman 184)
-      Andai saja, hidup ini juga memiliki banyak akhir yang bahagia. (Halaman 195)
-      Saat ini, aku ingin menjadi sumber kekuatannya. Aku ingin menjadi matahari dalam langitnya, alasannya untuk tertawa dan untuk tetap hidup. (Halaman 230)
-      Tapi, suatu hari nanti, sama seperti kegelapan yang meliputiku, aku akan melihat matahari kembali terbit dan merasakan kehangatannya. (Halaman 249)
-      Alam semesta ini punya rahasianya sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah percaya pada rencana-rencana di baliknya. (Halaman 251)
-      Tapi, asal cinta nggak penting. Yang penting adalah menjaga perasaan yang kalian bagi. (Halaman 266)
-      Kadang, sebuah cerita yang bagus punya akhir yang sedih. (Halaman 275)
-      Yang tak pernah dia katakan adalah, dia berada bersama orang-orang itu untuk meminjamkan harapan, ketika mereka telah kehilangannya. (Halaman 321)
-      Dan, jika selamanya tidak permanen, kami akan mengisi masa sekarang dengan kenangan-kenangan yang akan bertahan. (Halaman 348)
-      Seize the day, live in the moment, hope for tomorrow. (Halaman 348)
-      Hidup adalah kanvas kosong. Kamu bebas menciptakan ceritamu dan menentukan akhirnya. (Halaman 354)

Pesan moral yang aku tangkap dari novel ini yaitu, bagaimana kita belajar untuk tegar, dan menyadari kalau hidup tidak selamanya berjalan mulus. Hanya tinggal bagaimana diri kita menghadapi semua masalah. Aku juga belajar, tidak selamanya kita harus mengenang kepergian orang yang kita sayangi dengan airmata, seperti cara Lulu dan bunda mengenang kepergian ayahnya. And last but not least, bagaimana kita bisa berguna untuk orang lain di sisa hidup. Dan buat Winna, terima kasih sudah membuatku tersenyum begitu aku menutup lembaran terakhir. Happily Ever After menjadi karya Winna yang paling aku favoritkan.


5 of a 5 stars

Book's Review : You Are The Apple Of My Eye by Giddens Ko

Diposting oleh Mellisa Assa di 12:17:00 PM 0 komentar Link ke posting ini


Judul : You Are The Apple Of My Eye
Penulis : Giddens Ko
Penerjemah : Stella Angelina dan Fei
Penyunting : NyiBlo
Proofreader : Dini Novita Sari
Design Cover : Dedy Andrianto
Penerbit : Haru
ISBN : 978-602-7742-28-4
Tebal : 350 halaman
Kategori : Novel autobiografi, novel remaja

SINOPSIS :
Kau sangat kekanak-kanakan - Shen Jiayi
Sedikit pun kau tidak berubah, nenek yang keras kepala - Ke Jingteng

Semua berawal saat Ke Jingteng, seorang siswa pembuat onar, dipindahkan untuk duduk di depan Shen Jiayi, supaya gadis murid teladan itu bisa mengawasinya. Ke Jingteng merasa Shen Jiayi sangat membosankan seperti ibu-ibu, juga menyebalkan. Apalagi, gadis itu selalu suka menusuk punggungnya saat ia ingin tidur di kelas dengan pulpen hingga baju seragamnya jadi penuh bercak tinta. Namun, perlahan Ke Jingteng menyadari, kalau Shen Jiayi adalah seorang gadis yang sangat spesial untuknya.

Karena masa mudaku, semua adalah tentangmu...

REVIEW :
Bermaksud ingin memberi hiburan pada teman sekelas, Ke Jingteng (Keteng) malah harus mendapat hukuman duduk menghadap dinding selama jam pelajaran setelah namanya berada di urutan pertama pembuat onar dalam kelas, pilihan teman-teman sekelasnya. Di minggu selanjutnya nama Ke Jingteng masih berada di urutan pertama, sampai sang guru memindahkan tempat duduknya tepat di depan Shen Jiayi, sang murid teladan kelas mereka. Walaupun Shen Jiayi begitu bawel, tapi Keteng nyaman berada di dekat Jiayi. Bahkan berkat Shen Jiayi, nilai-nilai Ke Jingteng perlahan meningkat dan namanya masuk dalam peringkat 60 besar kelas mereka. Diam-diam Ke Jingteng mulai jatuh hati pada Shen Jiayi, tapi dia tidak sendiri karena beberapa temannya juga seolah berlomba mendapatkan perhatian Jiayi. Pada semester selanjutnya, tempat duduk Keteng ditukar dan dia jadi berdekatan dengan Li Xiaohua, gadis pintar lainnya. Nilai Keteng makin meningkat, karena setiap saat Xiaohua selalu bertanya soal mata pelajaran, membuat Keteng makin giat belajar di luar jam sekolah. Perlahan Xiaohua mulai menggeser posisi Jiayi dalam hati Keteng dan tidak lama kemudian mereka mulai berpacaran. Tapi hubungan mereka tidak bertahan lama, karena menjelang kelulusan SMP, Xiaohua mengirimkan surat putus untuk Keteng.
Sampai memasuki tingkat SMA, Keteng masih berusaha mendapatkan hati Xiaohua kembali, tapi semua usahanya sia-sia. Keteng mulai melupakan Xiaohua saat dia kembali dekat dengan Jiayi. Saingannya bertambah banyak tapi Keteng tidak menyerah. Nilainya semakin membaik karena taruhan-taruhan nilainya dengan Jiayi. Waktu bergulir dan Keteng tetap menanti waktu yang pas untuk menyatakan perasaannya kepada Jiayi, yang merasa belum siap untuk berpacaran.
***
Novel ini diangkat berdasarkan kisah nyata sang penulis. Penulis banyak mengungkapkan masa mudanya yang kocak. Dari awal membaca aku sudah dibikin sakit perut karena tertawa. Nggak bisa dibayangkan deh gimana koplak dan bandelnya Keteng ini. Bukan cuma menitikberatkan pada cinta monyetnya saja, tapi juga pada persahabatan dan persaingan Keteng dan teman-temannya dalam merebut hati Jiayi tapi secara sportif. Baik monolog, dialog sampai deskripsi ceritanya bikin ngakak.

Novel ini juga mengajarkan, kalau tidak selamanya cinta monyet itu mengganggu konsentrasi belajar. Buktinya Keteng yang nilainya selalu anjlok bisa berubah jadi siswa pintar yang selalu masuk peringkat 30 terbaik di sekolah. Cinta bukan hanya membutakan, tapi bisa merubah sesuatu yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Hal yang sangat patut dicontoh.

Rangkaian kalimat yang diuntai penulis tidaklah membosankan, dan jangan harap akan menemukan kalimat-kalimat curcol di novel ini, karena meskipun berdasarkan kisah nyata, tapi setiap kalimatnya justru penuh motivasi. Membaca terjemahannya juga enak. Ukuran font yang dipilih juga enak dilihat dan bikin nyaman membaca. Dan lagi, aku harus memuji tim editingnya, karena tidak ada kesalahan huruf yang aku temukan selama membaca. Dari segi ejaan mungkin aku mau mengoreksi penulisan kata begadang. Di halaman awal, aku menemukan kata begadang, dan di halaman lainnya penulisannya bergadang. Meskipun sama-sama ada di dalam KBBI, tapi lebih baik lagi kalau memang dari awal ditulis begadang, sampai akhir yah tetap begadang.

Ada beberapa kutipan dari novel ini yang menjadi favoritku dan ingin kubagikan, yaitu :
- Hanya dengan ketekunan, seseorang baru bisa menikmati hasil yang indah. Hanya dengan terus tekun berusaha, seseorang baru bisa melihat dunia yang tak terbayangkan sebelumnya. (Halaman 64)
- Biarkan dunia ini bisa berubah sedikit demi sedikit karena ada aku. (Halaman 197)
- If you risk nothing, then you risk anything. (Halaman 221)
- You are the apple of my eye,,,kau adalah orang yang paling berharga untukku. (Halaman 230)
- Dalam kehidupan tidak ada yang namanya "kecelakaan". Hanya bisa bilang kalau takdir sudah digariskan. (Halaman 290)
- Tanpa benang merah dari dewa jodoh, memperjuangkan cinta rasanya sangat sulit dan perlu melalui banyak kejadian. (Halaman 308)
- Meskipun cintaku dan cintanya tidak berakhir seperti yang diharapkan, tetapi semua masa-masa itu selamanya tidak tergantikan. (Halaman 309)

Satu lagi yang aku suka dari novel ini, bagaimana mereka semua -karakter yang ada dalam novel- tetap menjalin silaturahmi sampai akhir cerita, sekalipun hubungan mereka tidak selamanya berjalan mulus. Dan masa muda mereka, bukanlah masa muda yang hanya dihabiskan dengan sia-sia.

4 of a 5 stars.


Book's Review : Love Bites by Edith PS

Diposting oleh Mellisa Assa di 10:19:00 AM 0 komentar Link ke posting ini

Judul : Love Bites
Penulis : Edith PS
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-0944-6
Tebal : 200 halaman
Kategori : MetroPop


Sinopsis :
Vania :
“Percayalah, kalau diizinkan memilih, aku ingin menghabiskan sepanjang hariku di sofa, menonton DVD komedi keluarga Modern Family sambil menikmati sundae dan bercengkerama dengan Cherish. Sayangnya …”

Ivan :
“Ini bukan tentang gue mengerti atau tidak soal pekerjaannya, tapi tentang bagaimana seorang suami menjadi sandaran bagi istrinya yang butuh pendengar. Gue ingin bisa diandalkan olehnya.”

Apa yang terbayang saat mendengar fenomena Alpha Wife dan Beta Husband? Tentang bagaimana pernikahan diusahakan ketika terjadi pertukaran peran antara suami dan istri. Tentang dominasi istri –dari segi financial dan pengambil keputusan- dan peran baru laki-laki sebagai stay-at-home-husband.
Selamat datang di kehidupan Ivan dan Vania. Pasangan muda dengan satu anak perempuan berusia lima tahun, yang dipenuhi beragam dinamika pernikahan kaum urban di era modern : gaya hidup, stigma social, kodrat, idealism, skala prioritas, inferioritas, pelarian … Sampai akhirnya keduanya yang semula mempermasalahkan perbedaan, yang awalnya diyakini menyatukan mereka, mulai saling menyalahkan.

In fact, love is not that blind. It even bites!

Review :
Ivan dan Vania menikah berlandaskan perbedaan, perbedaan yang mereka pikir bisa menyatukan. Tapi kedua orangtua mereka meragukan pernikahan mereka. Ivan seorang penulis yang cuek, tapi mudah mengalah, bersanding dengan Vania, wanita karir dengan segudang prestasi di jaman kuliah dulu, keras kepala dan mendominasi. Tapi mereka berdua sama-sama meyakinkan diri kalau mereka sudah pas bersanding sebagai suami-istri. Vania tidak mempermasalahkan pendapatannya yang lebih besar dari Ivan, dan Ivan tidak mempermasalahkan waktu Vania yang kebanyakan tersedot demi pekerjaannya, dan bagian mengasuh Cherish lebih banyak ditangani oleh Ivan. Masalah datang saat Vania naik jabatan dan terpaksa tinggal di apartemen yang terpisah dengan Ivan dan Cherish. Vania mulai mempermasalahkan Ivan yang tidak jujur soal bisnisnya, dan Ivan mulai lelah didominasi oleh Vania sementara dia juga ingin menjadi pendengar Vania dan sekali-kali diandalkan oleh sang istri. Munculnya gangguan orang ketiga semakin memperparah rumah tangga mereka. Hingga mereka berdua yang tadinya yakin, kembali meragu.
***
Diceritakan dengan menggunakan 2 PoV, penulis sudah berhasil membuat emosiku campur aduk. Bukan karena alur cerita, tapi lebih ke karakter yang bikin geleng-geleng kepala.
Ivan, ya ampun kamu laki bukan sih? Kepala keluarga iya, suami iya, ayah iya, tapi seakan semua gak berfungsi sama sekali. Terlalu manut pada sang istri hanya karena dia berpenghasilan lebih besar. Padahal nggak peduli penghasilan istri lebih besar atau kecil, sudah jadi hak suami untuk dilayani. Dan yah aku memang harus setuju kalau ada pendapat yang bilang Ivan ini tidak berusaha lebih jauh lagi dan tidak tegas. Seandainya dia bisa lebih tegas, mungkin nggak akan diperlakukan seperti itu sama Vania.
Dan Vania,,,hmmmm aku sampai harus memutar kedua bola mata setiap mengingat tokoh yang satu ini. Semoga diluar sana nggak ada istri yang seperti Vania ini. Dominasinya dalam keluarga keterlaluan. Mentang-mentang dia yang penghasilannya lebih tinggi, terus semua keputusan dalam rumah tangga hanya ada ditangannya. Dia lupa pada kodratnya sebagai istri. Banyak kok alpha Wife diluar sana, tapi tidak lupa dengan kewajiban mereka sebagai istri. Semua masalah dalam rumah tangga mereka bersumber dari sifat keras kepala dan egoisnya Vania. Seandainya dia bisa lebih sadar diri akan kewajibannya sebagai istri, masalah mereka nggak akan selebay itu. Mulai muak saat Vania play victim. Seolah-olah dialah korban. Dia bebas teleponan dengan Hara, rekan kerjanya tanpa memikirkan perasaan Ivan, sementara saat Cita masuk ke dalam kehidupan Ivan tanpa keinginan suaminya itu, dia langsung blingsatan. Hanya ingin didengar tapi tidak mau mendengar. Kalau soal memberi nasihat paling jago, tapi dia sendiri justru tidak mau memberi kesempatan kedua atau berusaha berdamai dengan Ivan.
Vania bukan contoh alpha wife yang baik. Karena menurutku, meski pun dari segi finansial dia lebih dominan, tapi selama dia sadar kodratnya sebagai istri, rumah tangga tetap akan berhasil karena sang suami akan merasa dihargai dan dibutuhkan. Otomatis ego suami juga tidak akan terluka. Sama-sama salah sih sebenarnya, tapi Vania yang paling banyak andil dalam kegagalan rumah tangga mereka.
Mungkin pesan yang ingin disampaikan penulis itu, kalau memulai segala sesuatu dengan ragu hasilnya akan meragukan juga. Dan dalam pernikahan, feeling orangtua tidak bisa dikesampingkan. Menikah modal cinta aja nggak cukup, karena pada akhirnya, kita butuh materi juga. Seperti Vania yang tetap memilih bekerja sampai pantat tepos, rela kehilangan momen emas pertumbuhan sang anak asalkan dia bisa mencukupi materi demi masa depan sang anak dan untuk dirinya sendiri. So, dalam dunia nyata, cinta dan materi itu harus seimbang.
Love Bites merupakan karya pertama penulis yang aku baca dan berhasil mengaduk-aduk emosiku. Aku suka diksinya yang mengalir, temanya dan sudah pasti konfliknya. Tapi aku memang mengharapkan sesuatu yang beda di akhir cerita, akhir yang adil untuk Ivan lebih tepatnya.

3 of a 5 stars.

Book's Review : Lukisan Keempat by Rina Suryakusuma

Diposting oleh Mellisa Assa di 10:12:00 AM 0 komentar Link ke posting ini

Judul : Lukisan Keempat
Penulis : Rina Suryakusuma
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-5457-0
Tebal : 224 halaman
Kategori : Amore

Sinopsis :
Sebagai pramugari maskapai penerbangan internasional Corissa Airlines, tidak seorang pun mengira Natasya Petra Rahadian memiliki tiga fase kehidupan yang membuat gadis itu terluka karena cinta.
Dimulai dari ayahnya meninggalkan Natasya bersama ibu dan adiknya. Kekasih masa kuliah yang menduakannya dengan sahabat karibnya sendiri. Dan terakhir, pilot yang dekat dengan dirinya ketika menjalani pelatihan berselingkuh dengan teman sekamarnya.
Natasya bersumpah takkan jatuh cinta lagi. Sampai ia bertemu Craig Hayden, penumpang Corissa Airlines yang menyebalkan. Sementara Craig sudah tertarik pada Natasya yang begitu menawan hati saat kali pertama ia memandangnya.
Entah bagaimana Craig tahu, Nat memendam luka dalam hidupnya. Ia bertekad akan menyingkap kabut tersebut, memberi Natasya siraman kasih sayang, dan mengembalikan kepercayaannya kepada cinta.
Mampukah Craig membuktikan bahwa ia layak masuk dalam kehidupan Natasya? Bisakah Craig mewujudkan tekadnya untuk menjadi bagian dari lukisan hidup Natasya yang keempat, sekaligus yang terakhir?

Review :
Tersakiti untuk kedua kalinya, membuat Natasya bertekad untuk menjadi pramugari Corissa Airlines yang berbasis di Colorado, USA. Natasya ingin membuktikan pada papanya yang telah meninggalkan mama, adik serta dirinya demi menikah dengan perempuan yang lebih muda, dan juga pada Edward mantan pacar yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Di tengah masa training-nya, Natasya bertemu dengan Lou. Seorang pilot yang memiliki suara menenangkan. Tapi lagi-lagi, Natasya harus kecewa karena Lou justru menjalin hubungan dengan Jenny, teman sekamarnya. Saat menjalani jadwal terbangnya yang pertama kali, Natasya sudah harus berhadapan dengan penumpang menyebalkan, Craig Hayden yang sengaja mencari gara-gara supaya dia bisa dekat dengan Natasya. Tapi Natasya telanjur bersumpah pada dirinya kalau dia tidak akan jatuh cinta lagi. Mampukah Natasya bertahan dengan niatnya sementara Craig hadir membawa sejuta cinta dan kesungguhan untuk Natasya?
***
Jujur saja, tidak sesuai ekspektasi ketika aku membaca sinopsisnya. Jalan ceritanya terlalu sederhana, datar-datar saja dan tidak ada kejutan. Bahkan bagian-bagian yang harusnya bisa memancing emosi atau membuat terkejut, justru tidak dirasakan lagi feel-nya karena telanjur diungkapkan di sinopsis –Lou selingkuh dengan Jenny-.
Karakternya juga tidak terlalu istimewa. Digambarkan dengan fisik yang sempurna, tapi tidak berhasil mendapatkan perhatianku seutuhnya. Dan aku juga nggak dapat feel-nya, entah perasaan bahagia sang tokoh, atau bagian sedih dan emosinya, biasa saja. Dan untung saja novel ini tidak berhalaman tebal, karena dengan konflik yang sesederhana ini, tidak menutup kemungkinan aku akan me-skip novel ini. Seandainya saja konfliknya lebih menggigit sedikit atau diceritakan dengan sudut pandang orang pertama yang otomatis lebih bisa memancing emosi pembaca, aku pasti masih akan memberikan sedikit nilai plus.
Untungnya, diksinya tidak membosankan. Dan walau pun masih ada typo juga, tapi masih bisa dimaafkan. Bagi pembaca yang menyukai novel ringan dan happy ending, novel ini bisa dijadikan pilihan.

2 of a 5 stars


 

Mells Book's Shelves © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor