31 Desember 2015

SWEET HOME by ADELIANY AZFAR

Diposting oleh Mellisa Assa di 11:49:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Judul: Sweet Home
Penulis: Adeliany Azfar
Penyunting: Yuli Yono
Proofreader: Dini Novita Sari
Penerbit: Haru
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 9786027742413
Tebal Buku: 360 halaman;19 cm

Bagi Emily Cox, naik ke grade 11 sama dengan gejolak emosi yang tiada habisnya.
Matthew Cooper, pacar sekaligus temannya sejak kecil, memutuskan hubungan mereka. Sementara Marion-Mary Scott, sahabat dan tetangga sebelah rumahnya, terpaksa pindah dari Sweet Home ke kota lain setelah ibunya menikah lagi.
Saat Emily menyangka kehidupannya tidak bisa lebih buruk dari itu, puluhan pesawat kertas berisi curahan hati rahasia yang ia terbangkan ke teras rumah sebelah, yang semestinya ditujukan kepada Mary, hilang tiba-tiba!
Lalu muncullah Tyler Adams, tetangga baru yang dengan seenaknya selalu merecokinya dan membuat hari-harinya semakin menyebalkan.
Apa sih sebenarnya tujuan cowok itu?

Sebenarnya aku sudah nggak cocok lagi membaca genre novel seperti ini yang isinya curhatan anak kelas 2 SMA. Tapi demi reading challenge yang aku ikuti, aku tetap berusaha menikmati jalan ceritanya.
Isi novelnya kurang lebih sama dengan yang sudah ditulis di sinopsisnya. Curhatan seorang Emily yang susah move on setelah diputuskan pacarnya Matthew yang selalu menuntut Emily untuk mengubah penampilannya menjadi lebih feminim. Emily makin kesepian karena sahabat plus tetangganya, Mary, juga harus pindah dari Sweet Home. Sampai muncul Tyler Adams, yang pindah ke rumah Mary. Tyler yang usil dan selalu merecoki hidup Emily, pada akhirnya menjadi orang yang membuat Emily nyaman.
Standar saja sih ceritanya, khas remaja. Yang aku suka adalah ide penulis soal curhatan lewat pesawat kertas, yang menjadi kebiasaan Emily dan Mary. Mereka akan menuliskan isi hati mereka di kertas origami yang nantinya akan dibentuk menjadi pesawat dan diterbangkan ke teras kamar mereka masing-masing. Deskripsi penulis mengenai Sweet Home juga jelas. Membaca novel ini juga bikin adem, karena selain deskripsi Sweet Home yang hijau, bersih, dan nyaman, novel ini juga minim typo, bahkan mungkin nggak ada typo-nya. Font-nya juga cukup besar, jadi mataku yang minus ini nggak akan sakit sekalipun membaca tanpa kacamata.
Tapi, yah, seperti yang sudah aku bilang di atas. Novel ini bukan zamanku lagi. Cocok buat pembaca di kalangan remaja.

3 of a 5 Stars

30 Desember 2015

KATA DALAM KOTAK KACA by PIA DEVINA

Diposting oleh Mellisa Assa di 10:58:00 AM 0 komentar Link ke posting ini
Judul: Kata Dalam Kotak Kaca
Penulis: Pia Devina
Editor: Irna Permanasari
Desain Sampul: Orkha Creative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1868-4
Tebal Buku: 184 halaman
Tahun Terbit: 2015
Genre: Young Adult, Romance

Renjana Adinia merasa sudah mengambil keputusan sangat tepat: bekerja di Thailand demi menjaga jarak dengan Pandu, sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya dalam diam.
Namun takdir berkata lain, ayahnya yang sakit mengharuskannya pulang ke Jakarta. Hati Jana bergejolak. Kepulangan itu membuatnya harus menyaksikan pernikahan Pandu dan Tiara yang akan berlangsung tidak lama lagi.
Di antara dilema dalam hatinya, mantan kekasihnya, Angga, muncul kembali dalam hidup Jana, mengulurkan tangan saat dia patah hati.
Akankah hati Jana bisa mencintai Angga lagi? Atau justru semakin terbelenggu karena Pandu yang sudah memilih Tiara?

Tapi hatiku menangis karena sebentar lagi laki-laki yang kucintai akan menikahi perempuan lain. -Jana- Hal 10
Tema friendzone diangkat Pia kali ini dalam novelnya. Menggunakan first PoV, kita akan diajak bergalau-galau ria dengan cinta bertepuk sebelah tangannya Jana terhadap Pandu sahabatnya sejak remaja. Mungkin bagi beberapa orang, tema friendzone sudah basi, tapi peminat ceritanya masih banyak juga. Termasuk aku yang masih menikmati cerita dengan tema ini. Menyenangkan rasanya membaca persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang berujung pada rasa cinta dan kebanyakan bertepuk sebelah tangan. Dan sialnya, rasa cinta itu kebanyakan hadir lebih dulu pada pihak perempuan.
Kata Dalam Kotak Kaca termasuk kategori yang ringan menurutku. Jumlah halaman, jalan cerita dan gaya bahasa Pia yang tidak membosankan membuat novel ini bisa dilahap dalam sekali duduk. Konflik yang muncul adalah cinta terpendam Jana pada Pandu. Susah move on-nya Jana makin sulit membuatnya melupakan Pandu dan jatuh cinta lagi, sekalipun sosok Angga mantan pacarnya kembali muncul dan memberikan perhatian lebih untuknya. Dan Jana pun tidak mampu mengungkapkan perasaannya pada Pandu sementara hari pernikahan Pandu makin dekat. Dibikin harap-harap cemas sih dengan endingnya nanti bagaimana. Kalau Jana jujur sama Pandu dan Pandu juga merasakan hal yang sama, lantas bagaimana nantinya dengan pernikahan Pandu dan Tiara? Sementara kalau Jana tetap menutup rapat rahasianya, endingnya nanti bakalan gimana dong buat Jana yang full galau melulu? Jalan ceritanya memang menuntut kita sebagai pembaca untuk nggak berasumsi apapun dan baca aja deh sampai halaman terakhir gimana. Yang bikin penasaran juga karena novel ini bercerita dengan sudut pandang Jana saja, jadi aku juga nggak bisa menebak-nebak isi hati Pandu. Dan aku harus akui kalau Pandu dan Angga benar-benar sweet, jangankan Jana, aku aja jatuh hati.
Novel ini jadi novel keenam Pia yang aku baca, dan aku harus mengakui kelebihan Pia dalam hal mendeskripsikan tempat. Masih ada kegagalan dalam bentuk typo, dan bahkan masih di halaman-halaman awal. Beberapa sempat aku catat, yaitu:
- Srak, harusnya serak. Hal 9
- Tiga tahu, harusnya tiga tahun. Hal 32
- "Gue bawain batagor!" seru Pandu. Sementara dari awal Jana, Pandu dan lainnya berbicara pakai aku-kamu. Hal 80
- Saataku, harusnya saat aku. Hal 119
- Tanda kutip yang terpisah dengan dialog. Hal 114, 147 dan ada beberapa halaman lain yang tidak sempat aku catat.
- Pengulangan deskripsi pakaian yang dikenakan Pandu dan Tiara di acara pertunangan mereka. Hal 138
- Setelah kamu duduk di ruang tamu, harusnya setelah kami duduk di ruang tamu. Hal 141
Tidak sampai mengganggu, tapi layak diberikan catatan juga supaya bisa diperhatikan kalau nantinya novel ini akan cetak ulang.
Keseluruhan sih aku masih menikmati gaya menulis Pia, tapi aku juga menantikan gebrakan baru dari Pia. Dari tema atau karakternya mungkin, nggak melulu anak manis. Yang sangat menyukai tema terjebak friendzone, novel ini bisa dimasukkan dalam list.
Kenyataan sering kali lebih pahit dibandingkan imajinasi. Hal 16
Aku takut akan semakin jatuh cinta, sekaligus patah hati. Hal 30
Hal yang tidak mereka pahami adalah bagaimana mungkin perempuan dan laki-laki seperti kami hanya mentok pada zona pertemanan dan tidak pernah memiliki hubungan yang lebih jauh daripada itu? Hal 44
Sering kali cerita manis berhenti pada titik di mana sebenarnya kita tidak ingin berhenti. Hal 58
Mungkin harus ada seseorang yang mengajariku cara memanipulasi hati. Hal 66
Cinta itu nggak pernah gampang, honey. Malah, cinta itu susah banget buat didapat. Hal 67
Mencintai seseorang itu nggak selamanya dosa. Hal 78
Mungkin aku benar-benar terlalu sibuk dengan keegoisanku. Terlalu sibuk memikirkan diri sendiri yang bertambah dewasa, namun lupa bahwa usia orangtuaku juga semakin senja. Hal 87
Coba jujur sama perasaanmu. Izinkan dia tahu. Seenggaknya, setelah fase itu terlewati mungkin kamu bisa merasa lebih lega. Sebelum semuanya benar-benar harus berakhir, bahkan sebelum pernah dimulai. Hal 109
Seandainya aku bisa mengatakan betapa aku merindukannya, betapa saat ini aku menginginkannya. Bukan hanya sebatas teman. Hal 114
Hal tersulit di dunia ini adalah ... melepaskan kamu, Pandu. Atau mencoba jatuh cinta kepada orang lain. Hal 115
The love is not mine. Hal 141

3 of a 5 Stars

29 Desember 2015

DAISYFLO by YENNIE HARDIWIDJAJA (NOVEL METROPOP)

Diposting oleh Mellisa Assa di 10:34:00 AM 0 komentar Link ke posting ini

Di mata Junot, Tara adalah a miracle. Namun di mata Tora, Tara tidak lebih dari seseorang yang dapat digunakan dan ditinggalkan kapan pun dia mau. Tora telah menghancurkan sekaligus menguasai hidup Tara. Lalu kehidupan Tara yang abnormal pun dimulai. Dia mengorbankan Junot, manusia yang paling dicintainya di muka bumi ini. Ada yang bilang dia sakit jiwa, tapi hanya Tara yang tahu dia hampir menjadi pembunuh.
Sekarang tidak hanya Tara yang terlibat, tapi ada Alexander yang rela mengorbankan hidupnya yang cemerlang untuk menghitam di penjara karena Tara. Ada Junot, laki-laki yang rela menderita untuk mematri serbuk bintang di matanya.
Ada Tora, manusia yang menjadi target bahwa Tara hanya akan bernapas untuk melihatnya mati. Juga Muli, sahabatnya sewaktu kuliah yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidup Junot.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Tara? Mengapa kisah cintanya bagaikan benang kusut? Mengapa dia begitu berambisi untuk membunuh Tora?

Forgiveness is a gift to yourself

Judul: Daisyflo
Penulis: Yennie Hardiwidjaja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8024-1
Tahun Terbit: 2012
Tebal Buku: 256 halaman;20 cm
Genre: Metropop, Drama, Romance

I've been touched by this novel. Benar-benar tersentuh dengan kisah cinta Tara dan Junot, membuat aku yakin kalau nggak ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta sejati.
Tadinya aku belum berniat membaca novel ini. Tapi keberadaannya di puncak rak waiting list-ku, membuat aku mau tidak mau memungut novel ini. Dan begitu membaca sinopsisnya, aku langsung membuka halaman pertamanya.
Membaca novel ini, kita seolah sedang menyusun satu per satu kepingan puzzle. Dari sinopsis, berlanjut ke prolog, penulis berhasil membangkitkan rasa penasaranku. Kenapa Tara ingin membunuh Tora? Kenapa Tora jalannya pincang? Dan hubungan Tara dengan Alexander dan Junot bagaimana? Diceritakan menggunakan multiple PoV dan alur maju mundur. Di masa lalu, bercerita menggunakan first PoV yaitu Tara. Sementara cerita di masa sekarang, menggunakan third PoV.
Di bab 1 aku mulai emosi dengan kelakuan Tora. Nggak modal dan terkesan begitu sangat memanfaatkan Tara, padahal dia anak orang kaya juga. Emosi juga dengan sifat plin-plannya Tara. Jadi teringat dengan lirik Manusia Bodoh-nya Ada Band. Saat memasuki part Tara bercerita soal Junot, aku nyaris memaki. Kenapa nggak pilih Junot aja dan kenapa malah memilih si Tora brengsek itu? Tapi, hei nggak akan ada konflik dong kalau begitu. Apa yang terjadi pada Tara di novel ini begitu menyakitkan. Terpaksa harus mengorbankan perasaannya sendiri terhadap Junot, karena Tora sudah melakukan hal yang membuat Tara terluka, bukan hanya fisik, batin, tapi juga psikis. Membuat Tara ingin meninggalkannya, tapi juga tidak bisa.
Penulis benar-benar berhasil membuat kita emosi, terenyuh dan jatuh cinta selama membaca novel ini. Saat emosi dengan kelakuan Tora dan begonya Tara, kita akan dibuat jatuh cinta dengan Junot dan Alexander. Kalau aku yang jadi Tara, pasti bakalan bingung akan memilih yang mana. Yang satunya, cinta masa lalunya yang belum sanggup dia lupakan, laki-laki pertama yang membuat Tara percaya kalau tidak semua laki-laki bajingan, dan laki-laki pertama yang berhasil menyentuh Tara lewat sketsa gambarnya, a fairy without wings. Sementara lelaki yang satunya, bukan hanya membantu Tara bangkit dan menyembuhkan segala luka hati dan psikisnya, tapi juga rela mengorbankan masa depannya menjadi narapidana hanya karena mencegah Tara menjadi seorang pembunuh. Kita jadi kayak penilai setiap karakternya juga, apakah yang dilakukan setiap tokohnya benar atau salah. Tapi yang pasti, novel ini setidaknya mengajarkan kalau Tuhan itu maha adil. Setiap perbuatan tidak menyenangkan yang pernah dilakukan di masa lalu, akan tetap mendapatkan ganjarannya nanti.
Selain kisah Tara, terselip juga kisah Muli -sahabat Tara-. Hmmm, entah bagaimana aku menilai tokoh Muli. Di satu sisi, kasihan dengan cinta bertepuk sebelah tangannya terhadap Junot. Salut dengan Muli yang tetap optimis meraih cinta sejatinya, tapi tidak membenarkan jalan yang Muli ambil. Bisa mengerti juga dengan perasaan Muli, melihat laki-laki yang sudah dikaguminya, yang bahkan membuatnya mengambil jurusan seni rupa demi bisa melihat Junot dari dekat, tapi Junot malah saling jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Tapi Muli sayang, caramu salah menjauhkan Junot dari Tara. Tapi seperti yang sudah aku bilang tadi, kalau Tuhan itu maha adil. Yang aku suka dari novel ini adalah cara penulis menyelesaikan konflik yang seperti benang kusut.
Bukan hanya karakter-karakternya dan konflik cerita yang bikin emosi naik turun seperti roller coaster, tapi novel ini juga bertabur kalimat-kalimat yang quotable. Berikut beberapa kutipannya:
- Cinta tidak seharusnya dimulai dari keinginan untuk mengubah seseorang demi mencapai kebahagiaan, tetapi keinginan untuk tetap bahagia walau dia nggak bisa berubah. Hal 29
- Aku tahu kamu sanggup mengorbankan apa pun demi seseorang yang kamu cintai. Tapi percayalah, aku pun sanggup. Hal 33
- Apakah kamu tidak pernah ingat kita pernah bahagia? Hal 69
- Setiap orang membutuhkan waktu untuk bersedih, menangis dan sembuh. Hal 72
- Tapi itulah cinta. Jika kamu berani mencintai seseorang, maka kamu pun harus berani terluka karenanya. Hal 72
- Mimpi, dapatkah kamu mengabulkan satu keinginan? Hal 97
- Bagaimana mungkin aku lupa? Setiap detik yang berlalu bersamamu selalu indah. Hal 104
- Kamu mungkin berhasil menghapus sebagian memori seseorang, tapi kamu nggak bisa menghapus perasaannya. Hal 106
- Ada banyak hal indah di luar sana yang dapat kamu temukan. Yang perlu kamu lakukan adalah membuka matamu dan mencarinya. Hal 144
- Mencintainya, menjadikannya satu-satunya wajah yang akan aku kenang kala ajal datang menjemputku. Hal 148
- Knowing you is a gift. Holding you now is a miracle. Hal 150
- Seburuk apa pun masa lalumu, itu tidak penting buatku. Hal 151
- Mungkin aku tidak berani memimpikan esok hari, tapi untuk setiap hari yang aku jalani, aku tidak akan menyerah. Hal 152
- Mencintai untuk melepaskan? Jika saja dia punya pilihan lain. Hal 177
- Ada kalanya kita harus mengurai benang kusut agar tahu di mana ujung pangkal luka yang menggelayuti, baru bisa menyelesaikannya. Berdoa dan meminta kepada Tuhan. Berserahlah... Hal 189
- Aku sudah menemukan duniaku. Dan sekarang aku menemukan dunia yang lain. Hal 206
- Life goes on, Tara. Kalau memang sudah waktunya harus dilupakan, kamu harus membuangnya. Hal 208
- Kamu tidak berdaya memperbaiki masa lalu, tetapi kamu berdaya memperbaiki hari ini dan hari-hari selanjutnya. Harapan selalu ada. Hal 210
- Faith is the best of things. Good things never dies. Hal 235
- Cinta memang tidak butuh kata-kata. Tapi kenyataannya tidak ada seorang pun yang mampu mencintai seseorang tanpa kata-kata. Hal 253
Aku sangat merekomendasikan novel ini karena ceritanya yang bikin penasaran dan bisa dilahap dalam sekali duduk. Saat mulai membaca awalnya, kita tidak akan mau berhenti sebelum mendapatkan jawaban atas rasa penasaran yang sudah timbul di awal bab-nya.
Cinta, luka, dan dendam menjadi konflik utama dalam cerita, dan memaafkan adalah jalan terbaik untuk melupakan masa lalu dan memperbaiki masa depan. Because good things never dies.

4 of a 5 Stars

28 Desember 2015

FANGIRL by RAINBOW ROWELL

Diposting oleh Mellisa Assa di 11:35:00 AM 0 komentar Link ke posting ini

Judul: Fangirl
Penulis: Rainbow Rowell
Penerjemah: Wisnu Wardhana
Penyunting: NyiBlo
Proofreader: Dini Novita Sari
Penerbit: Spring
ISBN: 978-602-71505-0-8
Tahun Terbit: 2014
Tebal Buku: 456 halaman;20 cm
Genre: Young Adult

Cath dan Wren -saudari kembarnya- adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekedar fan. Simon Snow adalah hidupnya!
Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.
Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke Universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya!
Dicampakkan Wren, dunia Cath jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.
Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil.
Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?
 ===
Oh My God! 456 halaman, dan awalnya hanya diisi dengan galaunya Cath karena Wren tidak mau sekamar dengannya. Datar, membosankan, dan nyaris membuatku menyerah. Tapi karena novel ini salah satu novel yang masuk dalam daftar salah satu reading challenge yang aku ikuti, aku memaksakan diri dan bersabar-sabar melalui lembar demi lembar ceritanya.
Tapi ke pertengahan cerita, aku mulai menikmatinya. Cath ini kerenlah orangnya. Walau di awal kelihatan lemah karena sering galau, tapi di pertengahan mulai terlihat kalau Cath adalah orang yang kuat. Meski merasa diabaikan saudari kembarnya yang terlalu larut dalam pesta penyambutan mahasiswi baru, tapi Cath sangat bertanggungjawab pada keluarganya. Terlebih saat ayahnya harus dirawat di Rumah Sakit dan saat Wren keracunan alkohol, masuk Rumah Sakit dan nyaris diberhentikan ayahnya dari kuliah. Cath juga bisa berpikir dengan kepala dingin dan mudah memaafkan. Bisa dilihat dari caranya memaafkan Levi -mantan pacar teman sekamarnya Reagan, yang kelak bakal jadi pacarnya-, dan juga Nick yang sudah mencuri ide tulisannya. Ceritanya memang lebih berpusat ke Cath.
Satu lagi pesan moralnya, kalau apa pun yang terjadi, ikatan darah dan persaudaraan tidak akan pernah luntur. Kebiasaan boleh berubah, tapi rasa sayang akan selalu ada.
Dan berhubung aku tidak pernah membaca fanfiksi, aku lebih memilih untuk melewatkan halaman-halaman yang berisi fanfiksi Cath tentang Simon dan Bas. I even don't know if Gemma T. Leslie and Simon Snow really exist.
Kalau bisa protes ke penulisnya, mungkin cuma bagian awal ceritanya saja yang terlalu datar dan membosankan. Apalagi marginnya cukup rapat yang membuatku yakin kalau mungkin ada pembaca yang tidak sabaran akan langsung berhenti membacanya karena bosan atau capek duluan.

3 of a 5 Stars 

17 Desember 2015

FOREVER MONDAY by RUTH PRISCILIA ANGELINA

Diposting oleh Mellisa Assa di 10:56:00 AM 0 komentar Link ke posting ini

Judul: Forever Monday
Penulis: Ruth Priscilia Angelina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul: Orkha Creative
ISBN: 978-602-03-1006-0
Tebal Buku: 320 halaman;20 cm
Tahun Terbit: 2014
Genre: Metropop, Drama, Romance

Ingga akhirnya mendapatkan hari senin untuk menjadi pacar Eras, playboy yang punya begitu banyak pacar, satu gadis untuk satu hari. Sampai Ingga bertemu Kale, playboy lainnya yang berparas tampan.
Kale mengubah hidup Ingga, memberikan warna di hari-hari kelam gadis itu, mengajarinya bagaimana bersenang-senang dan bagaimana menyayangi dirinya sendiri. Kale membuat hati Ingga jungkir balik, membuat dunia gadis itu porak poranda dengan segala kasih sayangnya yang aneh.
Namun itu bukan berarti Ingga telah berpaling dari Eras. Gadis itu tetap mencintai Eras. Bahkan sampai Kale memintanya secara resmi untuk menjadi pacarnya, Ingga tetap mempertahankan posisinya sebagai pacar hari Senin-nya Eras.
Hari-hari bergulir, di samping kisah cinta yang rumit, fakta demi fakta bermunculan. Fakta bahwa Eras dan Kale dulu adalah sahabat dekat. Dendam lama yang disimpan rapi selama bertahun-tahun kini menuntut pembalasan. Pembalasan yang akan menghancurkan hidup Ingga dan orang-orang yang disayanginya.

Aku harus menarik napas dalam-dalam dulu sebelum mulai mengulas novel ini. Begitu menutup lembaran terakhir novel ini, aku ternganga, dan sesaat kemudian teriak -tapi dalam hati saja- APA-APAAN INIIII???
Forever Monday menceritakan kisah Ingga, Eras, Kale. Sedikit terselip juga kisah Rara -sahabat Ingga-, Adinata -ayah Rara-, Jonathan -sahabat ayah Ingga- dan Wira -yang mengurus Ingga, Gino dan Eras-. Karena trauma dengan kejadian empat tahun yang lalu, Ingga mengalami syok sampai kehilangan sebagian ingatannya. Sikap dan tingkah lakunya jadi berbeda, membuat Gino adiknya jarang pulang. Sepeninggal kedua orangtuanya, Ingga dan Gino harus tinggal dengan Eras, sesuai yang dituliskan ayah mereka di surat wasiat. Ingga jatuh cinta pada Eras sampai mengemis cintanya. Menjadi pacar di hari senin pun Ingga bersedia. Tapi Eras selalu membencinya, Eras memberikan hari senin untuknya, karena hari senin adalah hari tersibuk Eras. Diantara rasa sakit, kecewa dan benci yang diciptakan Eras dalam dirirnya, Ingga bertemu dengan Kale. Another playboy yang memberikan warna tersendiri bagi Ingga. Kale ada setiap Ingga membutuhkannya. Bagi Ingga, Kale adalah matahari, tapi Ingga juga tidak bisa melupakan Eras begitu saja. Karena Eras ibarat rumah buat Ingga. Kemana pun dia pergi, dia akan selalu pulang ke rumah. Saat ingatan Ingga kembali, Kale dan Eras bergantian mendampinginya dengan cara mereka masing-masing. Eras dengan caranya yang kasar tapi sebenarnya dalam hati dia juga mencintai Ingga dan khawatir apabila terjadi sesuatu pada Ingga, dan Kale dengan caranya yang lebih terbuka dan terang-terangan dengan perasaannya. Saat Ingga mengira hidupnya sudah kembali normal seiring dengan kembalinya sebagian ingatannya yang hilang, masalah lain muncul. Lebih besar, lebih pelik dan menyangkut perasaan serta keselamatan Eras, Kale, Gino dan Rara. Cinta, masa lalu dan dendam, semuanya bertubi-tubi menyerang Ingga dan orang-orang tersayangnya.

Novel ini bukan hanya berpusat pada kisah Ingga dan hilang ingatannya saja. Tapi juga masa lalu Eras yang kelam, yang menjadikan dirinya pribadi yang dingin, kasar dan pemarah. Persahabatannya dengan Kale dan apa penyebab rusaknya persahabatan mereka dan juga hubungan Wira dan Adinata dengan masa lalu orangtua Ingga dan Eras. Tadinya kupikir jalan cerita novel ini nggak akan sesuram itu dan jalan cerita yang isinya percintaan melulu. Bukan seperti itu ternyata jalan ceritanya. Kita akan diajak bergalau-galau ria, sedih dan penasaran.
Tapi sebelumnya aku mau sedikit mengkritik editing novel ini. Typo-nya lumayan, dan sempat bikin aku bingung juga, mulai dari Earth Line jadi World Line, Adinata jadi Adinoto (hal 34), dialog tanpa tanda kutip (hal 116 dan halaman-halaman lainnya yang tidak sempat aku tandai), Adinata jadi Jonatahan. Novel ini menggunakan 3rd PoV, tapi di halaman 172 (dialog antara Kale dan ayahnya) tiba-tiba menjadi 1st PoV. Aku juga merasa sedikit aneh dengan cara para tokohnya berdialog. Gino bicara pakai 'aku-kamu' dengan Ingga, sementara dengan lainnya pakai 'lo-gue'. Eras bicara pakai 'saya-kamu' dengan Ingga dan dengan lainnya pakai 'lo-gue'. Begitu juga dengan Kale dan Rara. Sementara Ingga pakai 'aku-kamu'. Sebaiknya, penulis lebih bisa menentukan, kalau memang mau pakai 'aku-kamu', yah semua tokoh dialognya pakai 'aku-kamu' saja, bukan campur-campur. Semoga bisa lebih diperbaiki lagi kalau novel ini akan dicetak ulang -amin-.
Eras dan Kale di sinopsis digambarkan sebagai playboy. Tapi pas masuk ke ceritanya, aura playboy mereka berdua nggak kerasa malah. Harusnya lebih bisa dideskripsikan karena memang ceritanya menggunakan sudut pandang orang ketiga, bukan sudut pandang orang pertama. Dan profesi keduanya sebagai pengusaha sukses, tapi kesan yang aku dapat malah lebih menunjukkan kalau mereka bukan pengusaha sukses, melainkan anak dari pengusaha sukses saja. Terutama sosok Kale. Usia Eras dan Kale 26 tahun, tapi penulis lebih menggambarkan sifat dan gaya berpakaian mereka seperti remaja kebanyakan.
Tapi novel ini juga memiliki kelebihan dibanding novel penulis lainnya yang sudah aku baca. Kalau di Grey Sunflower, gaya penulis bercerita belum dapat feel-nya. Ibarat kalau akting, cuma sekedar hapal naskah saja, tapi tidak menjiwai perannya. Berbeda dengan novel ini. Diksinya lebih baik lagi, dan terasa banget feel-nya. Ada beberapa part yang bikin aku berkaca-kaca. Konfliknya bukan cuma ada satu saja, tapi tiga, dan diselesaikan satu per satu oleh penulis sebelum masuk ke konflik yang paling wow. Konflik pertama yaitu Ingga dan trauma masa lalunya, konflik kedua persahabatan Kale dan Eras dan siapa yang dipilih Ingga, dan konflik terakhir yang berkaitan dengan kejadian empat tahun lalu yang membuat Ingga kehilangan ingatannya. Apakah aku penasaran saat membaca bab-bab awalnya? Iyalah penasaran. Bahkan sampai mendekati endingnya, aku nggak bisa menebak bagaimana akhir ceritanya, sampai aku dibuat ternganga sendiri dengan akhirnya. Happy ending or sad ending? Hmmm rahasia, harus baca sendiri. Kalau ditanya lagi aku pilih Eras atau Kale, hmmm sepertinya dari awal Kale menang banyak poin, tapi di pertengahan Eras mulai bisa mengejar poin Kale. Saat aku mulai pro ke Kale, masa lalu Eras yang terungkap membuat aku juga bisa memaklumi sikap dingin Eras.
Ini sedikit kutipan dari Forever Monday:

Cinta tanpa alasan itu cuma cocok untuk novel atau film roman. Bukan di dunia nyata. Dunia nyata butuh logika. Hal 24

Kamu tidak bisa menghancurkan hati yang sudah hancur. Hal 48

Menunggu belum pernah sedamai itu di ingatannya. Hal 66

Jadi, bagaimana kamu bisa mengambil sesuatu yang bukan milikku? Hal 67

Cinta dan kasih sayang itu hanya dua hal fantasi yang tidak pernah memberikannya kenangan manis. Hal 137 
 
Bagi kalian yang suka dengan cerita yang bisa mengaduk-aduk emosi, novel ini bisa dijadikan pilihan. Dengan catatan, bacanya jangan sedang dalam keadaan galau.

3 of a 5 Stars




15 Desember 2015

CHEEKY ROMANCE by KIM EUN JEONG

Diposting oleh Mellisa Assa di 11:31:00 AM 0 komentar Link ke posting ini






Judul: Cheeky Romance
Penulis: Kim Eun Jeong
Penerjemah: Putu Pramania
Penyunting: NyiBlo
Proofreader: Dini Novita Sari
Penerbit: Haru
ISBN: 978-602-7742-0
Tebal Buku: 447 halaman
Genre: Drama, Romance

Wanita yang tingkahnya tidak terduga, "si ibu hamil nasional", vs laki-laki yang selalu dianggap sempurna, "si dokter nasional".

Aku adalah seorang reporter. Saat aku sedang bekerja, di tengah syuting, muncul seorang dokter kandungan yang marah-marah seperti orang gila dan menuduhku sebagai ibu hamil. Celakanya, acara itu sedang ditayangkan ke seluruh penjuru negeri. Akibatnya, aku dikenal sebagai "ibu hamil nasional", bahkan sampai punya pahlawan pelindung segala.

Mendengar seseorang ingin menghapus anaknya, rasanya aku ingin segera menuntut perempuan itu. Suatu hari, aku bertemu lagi dengan perempuan bodoh itu. Berani-beraninya seorang ibu hamil minum alkohol di hadapanku, si dokter kandungan? Sampai makan kacang merah dan ikan fugu yang berbahaya bagi janin? Perempuan ini benar-benar kelewatan.

===

Yoo Chae tidak pernah menyangka kalau omelannya terhadap Hee Jae -mantan pacarnya yang berselingkuh- lewat telepon, di koridor Rumah Sakit Taejo bagian kandungan akan membawa masalah bagi dirinya. Tiba-tiba saja Yoo Chae menjadi trending topic sebagai 'ibu hamil nasional', gara-gara omelan seorang dokter kandungan Oh Yoon Pyo, saat dia sedang membawakan acara kuliner secara live. Yoo Chae dihujat para netizen, bahkan sampai dipindah tempat tugas ke daerah pinggir kota. Yoo Chae mencoba bertahan dari caci maki dan hinaan orang-orang. Membuatnya geram dan ingin balas dendam pada Yoon Pyo. 
Nasib kembali mempertemukan mereka saat stasiun TV tempat Yoo Chae bekerja membuat acara dokumenter di bagian kandungan Rumah Sakit Taejo, dan Yoo Chae ditunjuk sebagai reporternya. Lagi-lagi Yoo Chae dipermalukan karena dikira kandungannya bermasalah, padahal Yoo Chae hanya menahan sakit perut karena ingin buang air besar. Keseharian mereka selanjutnya diisi dengan saling sindir. Tapi terlalu banyak menghabiskan waktu bersama di Rumah Sakit membuat keduanya jadi saling melihat sisi lain yang unik dari kepribadian masing-masing, hingga menumbuhkan rasa suka yang lama-lama berkembang menjadi cinta. Tapi masalah lain muncul, saat Yoo Chae melihat nama Yoon Pyo ada di daftar pendonor sperma. Parahnya yang menerima donor sperma dari Yoon Pyo adalah So Yeong, sahabat baiknya. Lantas, bagaimana kelanjutan kisah Yoo Chae dan Yoon Pyo? Silahkan baca novelnya.

Perempuan yang awalnya bukan apa-apa bagi dirinya itu, tiba-tiba terasa sangat penting baginya. Hal 260

Awal baca novel ini aku benar-benar sempat kesal dengan Yoon Pyo. Karena sifat sok tahunya itu, Yoo Chae harus menerima akibatnya. Komentar netizen bikin emosi juga. Yah, sekumpulan orang yang nggak tahu apa-apa tapi bisa-bisanya yah mengeluarkan komentar-komentar sinis dan sadis. Lagian heran juga dengan orang-orang yang langsung mengambil kesimpulan hanya dengan sekali dengar.
Membaca novel terjemahan Korea, kita sepertinya memang harus banyak-banyak bersabar dengan alur cerita yang berjalan lambat. Hampir setipe dengan cerita-cerita di drama Korea. Tapi, kalau drama, dipanjangin pun mungkin kita nggak akan cepat bosan karena mata kita terhibur dengan aktor dan artis yang berperan dalam drama. Tapi kalau membaca cerita dengan alur yang lambat, ditambah marginnya yang rapat, hhhhh capek rasanya. 447 halaman, dengan cerita yang ringan-ringan saja, jatuhnya bakalan bosan kayaknya.
Eits, tapi bukan berarti keseluruhan jalan ceritanya jelek. Memasuki halaman 200-an aku mulai menikmati jalan ceritanya dan tanpa sadar sudah memasuki halaman terakhir. Penulis bercerita dengan gaya bicara yang ringan, dan julukan-julukan atau istilah yang mungkin sering dipakai di Korea sana. Aku juga mulai kagum pada sosok Yoon Pyo, yang dibalik sifatnya yang terlalu cepat menyimpulkan dan sok tahu, tapi begitu berdedikasi pada profesinya sebagai dokter spesialis kandungan. Bagaimana caranya memperlakukan para pasien benar-benar gentle. Tapi sifat jeleknya yah itu, terlalu cepat menyimpulkan suatu masalah. Karena sifat jeleknya itu juga, sampai dia memusuhi ibunya. Yoo Chae, karakternya sama dengan kebanyakan karakter-karakter utama perempuan yang ada di drama-drama komedi romantis. Kadang kelihatan konyol, tapi juga kreatif. Dan jangan tanya soal konfrontasi, Yoo Chae ahlinya hihihi. Sifat jeleknya, suka memikirkan hal yang bukan-bukan dan akhirnya berdampak pada hubungannya dengan Yoon Pyo.
Keseruan cerita ada di halaman 200-an, dimana Yoon Pyo mulai melakukan pendekatan pada Yoo Chae, dan saat Hye Rong -rekan kerja Yoon Pyo, wanita yang dulu disukai Yoon Pyo- nyaris mendapat tuntutan dari keluarga yang bayinya meninggal. Selain romansa antara Yoo Chae dan Yoon Pyo, penulis juga menyelipkan latar belakang keluarga Yoo Chae dan Yoon Pyo. Kisah cinta Yoo Gyu, adiknya Yoo Chae juga memberi sedikit warna pada ceritanya. 
Bagi penyuka cerita ringan, segar, lucu, dan ada kisah keluarganya, novel ini bisa menjadi pilihan. Sesuai sih dengan judulnya, kisah romansa yang lucu, menggemaskan tapi rada selengekan juga.
Tapi ingat yah, harus sabar bacanya. Kalau ada yang dirasa nggak penting di skip saja, karena aku juga men-skip beberapa scene karena pengen cepat-cepat sampai ke inti cerita. Sempat terpikirkan untuk memberi 2 bintang saja, karena capek bacanya dengan alur yang terlalu lambat. Tapi sampai ke inti cerita dan ending-nya, aku berubah pikiran. Seandainya alurnya tidak lambat, aku pasti akan menambahkan setengah bintang lagi. Tapi aku sudah telanjur bete duluan dengan alur lambat dan membosankan. Karena itu juga aku jadi malas mengutip kalimat-kalimat yang quotable dari novel ini.

3,5 of a 5 Stars

14 Desember 2015

PANGERAN KERTAS by SYAHMEDI DEAN

Diposting oleh Mellisa Assa di 1:55:00 PM 0 komentar Link ke posting ini

Ketika lembar halaman buku bergesekan
Kudengar suaramu
Ketika kertas-kertas digoreskan
Kulihat isi hatimu
Ketika kuhirup setiap lembarmu
Kuhirup harummu
Ketika cinta kuadukan
Kuadukan pada putihmu
Ketika aku berdoa
Oh Tuhan
Aku jatuh cinta
Aku tahu
Engkau pangeranku yang belum ada
 
 Judul: Pangeran Kertas
Penulis: Syahmedi Dean
Editor: Dini Novita Sari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-0784-8
Tebal: 224 halaman
Tahun Terbit: 2014
Genre: Drama, Family, Metropop

Mungkinkah Nania jatuh cinta pada impian yang ia ciptakan sendiri? 
Mungkin. Nania hidup dalam kesepian panjang, di antara Papa, bintang televisi yang sangat tenar, dan Mama, ibu yang hancur karena ketenaran suami. Nania mencari cinta dalam puisi-puisi yang ia tulis, sampai ia jatuh cinta pada sosok yang ia ciptakan, seorang Pangeran Kertas yang berhati putih, yang bisa menerima keluh kesah apa pun dari Nania, yang di dadanya Nania bisa menumpahkan tinta kata-kata. Apa yang terjadi ketika Pangeran Kertas menjadi kenyataan? Mereka berdua beradu kata-kata indah di bawah rembulan, beradu tatapan mata bertukar cinta.
Bagaimana jika pangeran impian berhadapan dengan pangeran lain yang lebih nyata? Mana yang harus dimenangkan, impian atau kenyataan? Nania semakin digempur oleh dua pilihan, sangat membingungkan. Salah satunya selalu menyembuhkan ketika yang lain menyakitkan. Mana yang menyakitkan, impian atau kenyataan? Puisi-puisi Nania semakin mengalir ke hamparan kertas.
Nania berdiri di depan megahnya Taj Mahal, monumen cinta paling abadi di muka bumi, merasakan betapa beruntungnya dihujani cinta dan kasih sayang. Nania pun terseret ke Yogyakarta, tempat benteng-benteng tua yang bertahan melalui dera kenangan masa lalu. Mencintai dan dicintai. Impian dan kenyataan. Pilihan yang sulit namun tetap harus diambil, lalu suatu hari nanti pilihan tersebut akan menjadi kenangan berair mata.

Oh, Tuhan. Dia jatuh cinta. Pada pangeran yang belum ada. Hal 41

Novel ini ceritanya sederhana, dengan tokoh utama Nania, Raka dan Alvan, dan berlatar belakang di Jakarta, Yogyakarta dan India. Membunuh rasa sepinya, Nania mencurahkan segala perasaannya dalam bentuk puisi di buku bersampul merah miliknya. Dan rasa cinta itu hadir. Nania jatuh cinta pada pangeran impiannya yang belum ada. Sosok Alvan muncul, dan langsung menunjukkan ketertarikan pada Nania. Puisi Nania dijadikan lagu olehnya dan Alvan tidak menunda untuk mengatakan kalau dia suka sama Nania. Tapi hati Nania masih tertuju pada pangeran impiannya.
Seandainya kita bisa memilih ... Masalahnya, kita tidak bisa memilih. Hal 44

Kita baru bertemu dua hari. Sebaiknya harus hati-hati dengan perasaan kita. Hal 50
 Saat mengunjungi  papanya di lokasi syuting, Nania melihat sosok Raka. Raka adalah asisten penulis naskah pada sinetron yang dibintangi papanya. Nania memperhatikan sosok Raka, dan satu kalimat yang dituliskan Raka pada naskah papanya, membuat Nania tertegun. Dia sudah menemukan sosok pangeran kertasnya.
 Kau menyiksaku dengan rayuan malam. Kau tarik aku terbang ke bulan. Bisakah kau kirimkan aku kembali ke bumi?
 Nania mencari cara untuk bisa bertemu dengan Raka. Dan saat kesempatan itu datang, Nania mengundang Raka untuk hadir pada festival pekan raya dimana dia akan menjadi salah satu pembaca puisi setelah sebelumnya mereka saling melempar kalimat-kalimat puitis.
Langit-langit tanpa bola mata. Huh! Anak kecil juga berani menatapnya. Hal 85
Singkat cerita, Raka dan Nania berkencan, setelah Raka mendengarkan puisi pangeran kertas yang dibacakan Nania. Raka tersentuh, bukan hanya dari cara Nania membacakan puisi tapi juga karena sosok pangeran kertas yang ada dalam puisi Nania, mengingatkannya pada gambar hasil karyanya semasa kecil dulu. 
Terlalu banyak kebetulan yang terjadi dalam satu lingkup waktu yang pendek, tidak mungkin kalau tidak ada apa-apanya. Hal 97
Di bawah sinar rembulan di taman Ayodhya, mereka saling mengungkapkan perasaan. Tidak lewat kata-kata, tidak lewat ikrar dan janji, tapi lewat tatapan mata.
Biar mata kita saja yang berbicara. Agar kita tidak berutang janji apa-apa. Hal 102
Tapi kemunculan Alvan yang tiba-tiba, membuat Raka cemburu dan dikuasai amarah. Raka kecewa karena dikiranya Nania hanya mempermainkan dirinya.
Ternyata sangat mudah menemukan kata-kata yang muncul hanya untuk menjerat. Hal 102
Nania patah hati sampai jatuh sakit. Dalam sakitnya, Alvan terus mendampinginya, menjaga dan merawatnya. Menghibur Nania lewat lagu-lagu ciptaannya. Membuat Raka kembali mundur saat niat untuk memperbaiki hubungan dengan Nania muncul.
Sebodoh-bodohnya laki-laki adalah mereka yang tidak berusaha merebut kembali apa yang membuat mereka bermimpi dan bahagia. Hal 116
Setelah Nania sembuh, dia bersama papanya dan Alvan liburan ke India. Mengunjungi Taj Mahal dan Jaipur, hati Nania masih dikuasai Raka. Tapi Nania tidak pernah menyangka kalau diantara keriuhan festival Holy di Jaipur, Nania kembali bertemu dengan Raka. Keduanya melepaskan kerinduan sesaat. Hanya sesaat, karena saat Alvan muncul, Raka kembali dikuasai amarah dan cemburu dan berlalu meninggalkan Nania begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan Nania.

Bunga yang cantik akan banyak yang mencintai. Kamu tidak bisa mencintai hukum alam. Hal 166
Intuisi dan rasa suka, kalau bergabung, nggak perlu lagi waktu berabad-abad untuk riset dan perkenalan. Tinggal keberanian saja untuk meraih idaman jiwa. Hal 178
Kenapa impian bisa lenyap seperti embun diterpa sinar kenyataan. Hal 195
Itulah kenapa di antara harapan dan kenyataan selalu ada rentang waktu, supaya setiap saat kita bisa bersiap-siap. Hal 197
Cinta dari orang lain itu tidak bisa dipaksakan atau ditagih-tagih. Hal 197
Masa lalu harus ditinggalkan di masa lalu. Hal 207
Mencintai itu menyakitkan, dan dicintai itu membahagiakan. Tak ada lagi yang harus dilakukan selain bersyukur.

Novel ini bisa dibilang setengah sastra, setengah bahasa gaul. Selain konsepnya yang tanggung, terlalu banyak kebetulan juga ada di novel ini. Dimulai dari pangeran kertas, warna sampul buku puisi Nania dan Raka, India sampai ke kejadian di masa depan. Kisah cintanya juga kayak cinta monyet, salah paham sedikit ngambek. Belum lagi Nania yang meweknya minta ampun kalau sudah teringat pada sosok Raka. Pondasi cinta yang lemah, jadi kesannya kekanakan. Raka yang karena cemburu dan salah paham, langsung emosian tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Nania dulu. Sementara Nania, demi ingin membalas dendam kelakuan Raka, menerima lamaran Alvan padahal dia tidak mencintai Alvan sama sekali. Kita akan bertanya-tanya nanti apakah Nania akan lebih menggunakan logikanya atau hatinya.
Tapi aku suka konsep yang tanggung -setengah sastra, setengah bahasa gaul-, karena otakku memang tidak terlalu akrab dengan bahasa puitis mendayu-dayu. Dari segi kerapihan, aku masih menemukan beberapa typo, tidak mengganggu, tapi ada 2 yang aku garis bawahi karena terlalu jelas, yaitu:
- segera badan, harusnya segera balik badan. hal 119
- she will br, harusnya she will be. hal 140
Dari keseluruhan ceritanya, menurutku biasa-biasa saja, dari segi konflik, jalan cerita sampai ke karakter utamanya, karena justru Alvan si second male-lah yang lebih banyak mencuri hatiku.. Dan unsur metropopnya juga tidak terlalu kental. Rating dari aku 2 bintang untuk jalan cerita dan karakternya, plus 1 bintang untuk kutipan-kutipan puitis dan puisi-puisi Nania dan Raka.

Langit putih
Seputih halaman kertasku
Teteskanlah badai di hatimu
Gores demi gores
Aku bisa menampungnya di sini
Pernahkah kau impikan aku?

Ketika matahari dan bulan bertemu
Tulislah resahmu di dadaku
Dadaku putih untuk setiap tetes tintamu
Kasihku yang belum datang
Akulah pangeranmu

3 of a 5 Stars

 

 

10 Desember 2015

LEARNING TO LOVE by ENI MARTINI (NOVEL AMORE)

Diposting oleh Mellisa Assa di 12:43:00 PM 4 komentar Link ke posting ini





Sesuatu yang tidak cocok bukan dipaksakan untuk menjadi cocok, tapi dipahami agar saling mengisi. Hal 13

Judul: Learning To Love
Penulis: Eni Martini
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Penerbit: Pt Gramedia Pustaka Utama
Desain Cover: Marcel A. W.
ISBN: 978-602-03-0988-0
Tahun Terbit: 2014
Tebal Buku: 184 halaman;20 cm

Dijodohkan?
Kalau pria itu tampan, berpendidikan, karier mapan dan berasal dari keluarga baik-baik, kenapa tidak?
Saat jam biologis terus berdetak dan ia tak kunjung memiliki hubungan yang langgeng dengan laki-laki, Eliz memutuskan menerima rencana mamanya untuk dikenalkan dengan Ken. Eliz nyaris tidak percaya saat proses perjodohan tersebut begitu lancar. Tak banyak basa-basi. Tidak ada pertentangan. Dalam waktu singkat mereka sudah sah menjadi suami istri dan saling beradaptasi. Namun, diam-diam Eliz bertanya-tanya dalam hati, mengapa pria yang nyaris sempurna seperti Ken bersedia menikahinya? Sikap Ken yang cuek dan dingin pun membuat Eliz curiga, jangan-jangan Ken tidak tertarik pada wanita ...
Ketika satu demi satu konflik menghantam rumah tangga mereka, akankah Eliz mundur dan menyudahi semua  atau membuka hati dan belajar mencintai suaminya?

Mulailah berbagi hati dengan lelaki yang mungkin kelak akan kamu cintai. Hal 20

Tema perjodohan sepertinya selalu menjadi tema favorit yang diangkat dalam novel. Learning To Love salah satunya. Risau karena putri bungsu tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan segera menikah, orangtua Eliz dan kakaknya Putri menyusun rencana untuk mengenalkan dirinya dengan Ken. Putra sahabat ibunya, seorang PNS di Departemen Lingkungan Hidup. Sadar kalau usianya tidak muda lagi -33 tahun- dan kalau orangtuanya akan tetap memaksakan kehendak mereka, Eliz pasrah pada rencana orangtuanya. Ken ternyata pria yang tampan. Pertemuan singkat yang berujung pada pernikahan. Hari-hari Eliz dan Ken diisi dengan saling beradaptasi. Tapi menyatukan dua pribadi yang bertolak belakang, ditambah tanpa ada perasaan cinta di antara keduanya bukanlah perkara yang mudah. Eliz yang perfeksionis dan cenderung tertutup dengan perasaannya, bertemu Ken yang cuek dan menganggap sepele terhadap hal-hal yang seringkali dianggap penting oleh Eliz. Masing-masing punya dambaan bagaimana sebuah pernikahan itu harusnya berjalan, tapi masing-masing hanya diam dan menyimpan rapat isi hati mereka. Keduanya terlalu lama membiarkan ruang kosong dalam pernikahan mereka. Berhasilkah pernikahan Eliz dan Ken? Silahkan baca novelnya.

Everyone wants to get married because of love. Hal 170

Meski mengangkat tema perjodohan dan pernikahan tanpa unsur cinta, tapi jalan ceritanya ringan-ringan saja. Semua hanya masalah perasaan dan keterbukaan saja. Itu yang menjadi konflik utama cerita. Cara penulis bertutur begitu sederhana, seolah sedang mendengarkan curhatan teman baik. Aku sangat menikmati jalan ceritanya. Cuma gemes saja dengan sikap Eliz dan Ken. Perasaan kesal kalau terlalu lama dipendam tanpa dibicarakan, akan menjadi bom waktu dalam hancurnya sebuah hubungan. Begitu pula dengan keinginan tanpa ada perbuatan. Intinya, masing-masing harus bisa menerima kekurangan masing-masing. Jangan egois juga. Saran dari keluarga terdekat sekalipun pahit menurut kita, harus diterima, jangan diabaikan. Kurang lebih itu pesan yang coba disampaikan penulis. Bahasa yang ringan, dengan konflik yang bikin gemas, dan selipan kutipan-kutipan yang kena di hati, membuat aku sangat merekomendasikan novel ini. Khususnya bagi pembaca yang sedang menghadapi percobaan perjodohan, atau yang sudah siap menikah. Karena novel ini mengajarkan kita bagaimana seharusnya bersikap saat ada di posisi Eliz dan Ken.

Selalu, sesuatu yang indah itu pada akhirnya hanya tinggal kenangan saja. Hal 19

Tuhan tidak pernah salah memberi jodoh pada umatnya. Yang salah adalah umatnya itu sendiri yang terkadang mengabaikan instingnya. Hal 53

Ia tidak pernah tahu kalau cinta bisa jadi begitu menyebalkan dan mampu menguasai emosinya. Hal 96

Bukannya dalam berumah tangga itu seperti menanam bibit dari pohon yang kita cintai, yang kita inginkan untuk tumbuh, berbunga dan berbuah? Jadi, kupikir menikah atau berumah tangga itu proses seumur hidup untuk terus mencintai. Hal 150

Begitulah proses kehidupan, menyambut yang baru dan menenggelamkan yang lalu. Hal 151

Hanya saja ... adakah niat kalian untuk saling jatuh cinta? Hal 166

Memiliki pasangan hidup bukan sesuatu yang mudah. Hal 170

Tidak ada ego yang perlu dipertahankan dalam rumah tangga. Hal 174

3 of a 5 Stars
 
 

WHO ARE YOU by LIM EUN HEE

Diposting oleh Mellisa Assa di 9:03:00 AM 0 komentar Link ke posting ini


Mimpi yang tidak kumengerti.
Siapakah dia?
Suatu hari, dia menjadi penguasa mimpiku.
Dan aku, bertemu dengannya.



Judul: Who Are You
Penulis: Lim Eun Hee
Penerjemah: Vina Marlia
Penyunting: Arumdyah Tyasayu
Proofreader: Dini Novita Sari
Ilustrasi Isi: @teguhra
Penerbit: Haru
Tebal Buku: 320 hlmn;20 cm
ISBN: 978-602-7742-33-8
Tahun Terbit: 2014
Genre: Drama, Romance

Song Ah Ri
Siapa pria itu? Pria yang sanggup memberi cinta sehangat itu?
Selama ini, Ah Ri selalu bermimpi tentang seorang pria yang tak dikenalnya. Sampai akhirnya secara tak sengaja ia bertemu dengan pria itu, dan Ah Ri pun yakin bahwa mimpi-mimpinya tersebut adalah suatu “ramalan”.

Yoon Ian
Jangan menangis lagi. Mengapa kau sering sekali menangis?
Song Ah Ri hanyalah seorang gadis yang baru kemarin Ian kenal. Jadi … mengapa gadis itu bisa mengatakan suka padanya? Lalu … bagaimana ia bisa tertidur di samping gadis tersebut?

Kim Gana
Maafkan aku, Gyu Wan …
Kematian Gyu Wan –teman baik Yoon Ian sekaligus kekasih Kim Gana- beberapa tahun lalu masih membuat hati wanita itu terperangkap. Gana pun tak bisa begitu saja mengaku bahwa sebenarnya Ian-lah yang ia cintai. Namun, setelah percobaan-percobaan bunuh diri Ian serta pertemuan pria itu dengan seorang gadis yang aneh dan mencurigakan, Gana pun merasa dirinya harus segera bertindak.

Kita jangan hanya jalani cinta yang menyedihkan. Hal 19

Cerita novel ini dibuka dengan mimpi Song Ah Ri. Di dalam mimpi tersebut, Ah Ri memimpikan sosok seorang pria. Mimpinya begitu menyedihkan, tidak jarang membuatnya menangis. Ketika hatinya tengah bersedih saat diputuskan kekasihnya, Ah Sung, tak sengaja Ah Ri melihat sosok pria dalam mimpinya itu, Yoon Ian. Beberapa hari kemudian, Ah Ri kembali bertemu Ian dalam keadaan mabuk. Ah Ri meracau dan mengatakan kalau dia menyukai Ian dan tidak akan melepaskannya. Awalnya Ian bingung, tapi lama-kelamaan dia mulai menikmati kehadiran Ah Ri. Hidup Ian suram sepeninggal Gyu Wan, sahabat yang sudah dianggap kakaknya sendiri, belum lagi masalah keluarganya. Ayahnya menikah lagi dengan wanita yang lebih muda, dan ibunya pergi meninggalkannya. Di masa sulitnya itu, ada Kim Gana dan Gyu Wan yang selalu menemani dan menjaganya. Tapi kematian Gyu wan meninggalkan rasa penyesalan yang mendalam pada diri Ian. Berulang kali dia selalu mencoba bunuh diri. Kehadiran Ah Ri memberi warna tersendiri dalam hidup Ian. Dia pun mulai mencintai dan berkencan dengan Ah Ri. Tapi masalah lain datang. Kim Gana, perempuan yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri, mulai depresi. Selalu memanggil Yoon Ian dengan nama Gyu Wan. Saat kesadarannya kembali, Gana ingin pergi jauh dari Korea dan meminta Ian ikut dengannya. Ian dilema. Di satu sisi karena dia sudah berjanji pada Ah Ri untuk selalu bersama. Tapi di sisi lain, Ian merasa bersalah pada Gana. Karena dirinyalah Gyu Wan meninggal. Tapi kemunculan Kang Shin Tae dan diari Gyu Wan mengubah segalanya. Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu? Benarkah Gana depresi karena kematian Gyu Wan? Dan apa alasan kemunculan Kang Shin Tae? Bagaimana hubungan Ian dan Ah Ri pada akhirnya? Silahkan dibaca novelnya.

Konflik masa lalu yang bikin penasaran. Cerita tidak hanya terpusat pada Song Ah Ri dan Yoon Ian saja, tapi juga pada Kim Gana dan Gyu Wan. Meski diceritakan sebagai tokoh yang sudah meninggal, tapi Gyu Wan cukup memegang peranan juga dalam konflik cerita. Sebelum membahas jalan ceritanya, aku mau membahas tokoh-tokohnya dulu:
- Song Ah Ri
Aku menggambarkan Ah Ri sebagai sosok yang apa adanya. Tidak bisa atau tidak tahu menyembunyikan perasaannya. Ah Ri bisa tiba-tiba menangis, padahal sebelumnya dia masih tertawa. Tapi cintanya pada Ian sanggup membuatnya melindungi Ian, sekalipun harus mengorbankan perasaannya sendiri.
- Yoon Ian
Laki-laki lemah luar biasa. Seperti tidak ada gairah hidup. Sulit melepaskan masa lalu, tidak tegas. Aku benar-benar gemas, saat Ian hanya diam saat Gana bersikap kasar pada Ah Ri di awal-awal cerita. Kurang peka juga. Tidak bisa merasakan kalau Gana diam-diam menyukainya. Tapi saat jatuh cinta, dia bisa juga penuh kejutan.
- Kim Gana
Egois, dingin, tak berperasaan, tapi kalah dengan perasaannya sendiri. Sanggup melakukan apapun, tapi tidak sanggup mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya. Hidupnya seakan cuma stuck pada satu nama, Yoon Ian.

Aku sempat dibikin penasaran dengan prolognya. Kenapa Ah Ri bisa memimpikan Ian yang tidak dikenalnya, dan penyebab kematian Gyu Wan, yang membuat Ian berulang kali mencoba bunuh diri. Dan sebenarnya, konflik ceritanya bisa membuat jalan ceritanya menjadi lebih seru. Tapi plot ceritanya terlalu cepat. Harusnya penulis lebih memperkuat chemistry antara Ian dan Ah Ri dulu sebelum menimbulkan benih cinta antara dua tokoh. Dari halaman awal sampai di halaman 200-an, aku nggak merasakan emosi apa pun saat membaca novel ini. Flat aja, nothing special. Padahal harusnya kejutan-kejutan kecil dari Ian bisa membuatku senyum-senyum sendiri.

Meski jalan ceritanya terlalu datar menurutku, ada beberapa selipan kalimat-kalimat yang menjadi favoritku. Yaitu:
- Terkadang manusia mempunyai sifat kejam yang terbentuk secara alami. Meskipun tak ada yang mengajari cara untuk mengakhiri suatu hubungan, tapi mereka bisa belajar dengan sendirinya. Hal 14
- Dalam urutan percintaan, rasa cinta dan benci selalu saja datang silih berganti. Hal 29
- Salah satu unsur dari cinta adalah kesetiaan, sementara kesetiaan juga dibutuhkan dalam suatu persahabatan. Hal 40
- Kemarin bahagia, hari ini menderita, dan besok harus bangkit kembali. Memang seperti itulah cinta. Hal 97
- Mulai sekarang, kau jangan lagi ada di depanku. Kau juga tidak boleh ada di belakangku. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kau harus selalu duduk di sampingku. Seperti ini. Selalu. Hal 171
- Rasa cinta dan ego itu berbanding lurus. Bila rasa cinta itu menguat, kita akan semakin erat mempertahankan orang itu dan semakin tak ingin mengalah. Hal 187
- Mungkin inilah cinta, di mana 99%-nya adalah rasa benci. Namun, sisa 1% itulah yang mampu menghilangkan kebencian. Berkat 1% tersebut, rasa kecewa dan benci pun memudar. Hal 190
- Meski diberi permata yang mahal, tapi tanpa cinta atau ketulusan, apa gunanya? Bagiku, meski dunia ini berubah, ada hal yang tetap tak berubah. Hal 225

Dengan konflik masa lalu, masalah keluarga Yoon Ian dan kesepian yang melandanya, asmara Ian dan Ah Ri, ceritanya harusnya bisa menggali setiap emosi pembacanya. Tapi plot yang terlalu cepat membuat ceritanya seperti banyak terlompati. Belum lagi terjemahannya yang terlalu datar, atau mungkin gaya bahasa penulisnya yang memang kaku. Aku mulai tertarik setelah tokoh Kang Shin Tae muncul dan perlahan mulai terungkap semuanya. Dalam hati nggak berhenti mengumpat egoisnya Gana, dan kebodohan Gyu Wan. Mendekati ending, Who Are You mulai menarik diriku untuk perlahan-lahan larut dalam cerita. Tapi tetap saja, awal yang bagus dapat menentukan sejauh mana perhatian pembaca bisa diraih. Penulis juga tidak mengungkapkan maksud dari mimpi-mimpi Ah Ri, mengambang begitu saja begitu Ah Ri dan Ian bertemu. Untung saja novel ini dicetak dengan font yang menarik, spasi yang tidak rapat, dan gambar ilustrasi menarik di awal setiap bab. Biasanya aku tidak menangkap typo karena teralihkan dengan jalan cerita. Aku juga menemukan sedikit typo, tapi tidak mengganggu. Seandainya saja aku teralihkan dengan jalan cerita yang menarik, mungkin aku tidak akan menyadari typo yang ada.  

Bukan berarti aku bilang novel ini kurang bagus, tapi bukan seleraku saja gaya tulisan seperti ini.

2,5 of 5 Stars                      

5 Desember 2015

CEWEK MATRE by ALBERTHIENE ENDAH

Diposting oleh Mellisa Assa di 9:09:00 PM 0 komentar Link ke posting ini


“Kau boleh menghitung keuntungan materi dalam cinta. Tapi itu tak akan bisa menandingi kemurnian cinta.”



Judul: Cewek Matre
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi dan Desain Sampul: J. Henk Winiarti
Tebal Buku: 464 hlmn;20 cm
ISBN: 978-979-22-8087-6
Tahun Terbit: 2004

“Mana bisa hidup tenang di Jakarta? Coba lihat, di sebelah kiri kamu cewek pake tas Prada, di kanan pake terusan Gucci. Di belakang, cewek kecentilan pake kelom Dior! Jauh di depan mata, ada yang siap melototin kamu dari ujung rambut ke ujung kaki. Lalu matanya akan mengejek begitu tahu yang nempel di tubuh kamu cuma keluaran Mangga Dua.”

Lola humas di sebuah radio. Kantor yang membuatnya panas-dingin tiap hari, karena selalu berurusan dengan jetset-jetset Jakarta yang superglamor. Ia gadis yang cantik dan seksi. Mulanya ia tidak menyadari kelebihan itu. Tapi suatu hari ia sadar penampilannya bisa ditukar dengan uang.
Bahagiakah dia, setelah menjadi cewek matre?

Aku harus berterima kasih sebelumnya sama teman yang sudah memberikan novel ini kepadaku –yang sayangnya aku lupa siapa yang ngasih novel ini-. Tahun 2004 saat novel ini terbit, aku baru saja memulai tahun awal perkuliahanku. Membaca novel ini pada saat itu sudah pasti akan membuatku kebingungan dengan segala macam branded atau jenis-jenis dress yang bertaburan di novel ini. Tapi aku bisa mengambil kesimpulan untuk tokoh utama dalam novel ini. BPJS alias Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita.

Lola adalah humas di radio City Girls FM, yang nyaris setiap hari mengeluhkan gaji sebulannya yang berjumlah empat juta perak tidak cukup untuk hidup di Jakarta ini. Setiap gajian, Lola akan mulai menyusun anggaran yang sudah keluar. Dan yah, belum juga sebulan, kantongnya sudah mengerut. Lola bersahabat baik dengan Palupi, Silvia dan Renata. Tiga gadis yang hampir mirip dengan Lola dari segi finansial. Setiap hari mata mereka selalu melirik iri pada Arientha, Linda, Bianca dan Verena, yang selalu berpenampilan sophisticated dan dibalut pakaian serta aksesoris bermerek. Dari situlah timbul niatan mereka untuk berusaha menggebet atau minimal bisa berteman dengan cowok-cowok kaya agar bisa ketiban rejeki ditraktir barang-barang branded. Di antara mereka berempat hanya Lola yang berhasil menggebet cowok mapan karena fisiknya yang memang cantik. Merasa di atas angin, Lola jadi lupa diri. Bermandi uang, baju-baju mahal, tas dan sepatu branded, Lola jadi keenakan memanfaatkan kecantikan fisiknya untuk menggaet pria-pria kaya yang tergila-gila padanya. Tapi masalah datang satu per satu dan mulai merendahkan harga dirinya. Belum lagi gosip yang beredar di kantornya kalau dia menjadi simpanan om-om. Lola terusik, tapi membayangkan dirinya kembali miskin tidak meruntuhkan naluri matre dalam dirinya. Sampai dia bertemu Clift. Seorang fotografer yang memotret karyawan City Girls FM saat membuat Company Profile. Lola jatuh cinta, dan cintanya terbalas. Untuk pertama kalinya Lola melihat seorang pria tanpa memikirkan kemapanan finansial pria tersebut. Lantas berhentikah Lola menjadi cewek matre dan siap meninggalkan kehidupan glamor yang sudah dicecapnya selama satu tahun terakhir?

Jakarta memang gila. Tapi bukan berarti saya mesti gila. Hal 455

Aku agak miris saat membaca bagian prolognya, yang berisi panjang lebar pembelaan kalau menjadi cewek matre itu tidak salah, melainkan sudah tuntutan hidup. Pengen ketawa keras-keras sebenarnya. Novel ini keluar di tahun 2004, dan betapa berartinya uang sejumlah empat juta rupiah di tahun itu. Dengan catatan kita bisa mengatur pengeluaran dengan baik. Bergaya sesuai isi kantong tepatnya. Bukannya sok suci atau apa, tapi menjadi cewek matre hanya karena di sebelah kita memakai tas Louis Vuitton? Sepadankah itu dengan nama baik dan harga diri kita sebagai perempuan? Di dunia ini memang siapa yang tidak mau uang? Siapa yang tidak ingin merasakan kehidupan glamor? Tapi kalau harus memilih jalan seperti Lola, sayang banget. Apalagi Lola digambarkan mempunyai paras cantik yang masih bisa digunakan dalam hal lain, selain menggaet laki-laki kaya dan mapan. Hal lain yang aku maksudkan di sini, ada dalam cerita juga kok.

Cerita di novel ini selain mengungkapkan gaya hidup instan yang kebanyakan dipilih di jaman sekarang, juga secara tidak langsung mengajarkan kita untuk bersyukur. Kalau merasa hidup kita serba kekurangan, jangan melihat ke atas. Tapi lihatlah ke bawah. Lihat ke orang-orang yang susah payah bekerja tapi hanya bisa dapat uang yang hanya cukup untuk makan sehari saja. Kalau mata kita hanya tertuju ke atas saja, yah pastinya kita akan menjadi Lola-Lola yang berikutnya.

“Karena mata lu cuma dihabisin buat ngeliatin Arintha, Linda, lalu humas-humas sok kaya itu, klien-klien selangit. Coba mata lu sedikit diarahin ke gue. Datang dari Surabaya. Bayar kos dan hidup pake sisa gaji yang sebagian besar dikirim ke nyokap di sana. Toh gue bisa survive!”hal 385

Saat baca prolognya, aku kira Lola terpaksa jadi cewek matre karena tuntutan pergaulannya. Nggak ada barang bermerek yang nempel di tubuh kamu = nggak ada teman. Tapi ternyata Lola punya tiga sahabat yang meski selevel tingkat kere-nya, tapi tulus mau berteman dengannya dan mau melewati susah senang sama-sama. Kembali lagi ke gengsi rupanya. Aku jadi bertanya-tanya, tanpa Louis Vuitton, Prada, Celine, Fendi, Bvlgari, memangnya nggak bisa hidup di Jakarta sana yah? Hidup memang keras, tapi pasti ada jalan untuk survive. Untuk apa memedulikan pandangan atau omongan orang-orang yang mungkin hanya setahun atau beberapa bulan sekali baru ketemu, sementara di sisi kita ada keluarga yang hangat dan sahabat yang akan membuka lebar tangannya tanpa harus melihat merek mahal dan terkenal mana yang sedang menempel di tubuh kita. Aku berterima kasih pada mbak Alberthiene yang sudah menciptakan novel ini. Nggak perlu merasa kesindir, atau digurui, tapi ambil hikmahnya saja. Jangan harus jadi Lola dulu, baru bisa sadar kalau masih ada jalan lain yang lebih baik untuk mendapatkan uang. Toh pada akhirnya Lola juga jadi bisa tahu mana yang bisa menjadi sumber kebahagiaannya.

“Ternyata duit bukan cuma datang dari lelaki.” Hal 447

Selain pesan moralnya, aku sangat menikmati gaya menulis mbak Alberthiene. Dialog dan monolog yang kocak yang kebanyakan keluar dari mulut Silvi dan Tohir. Aku juga tertawa sendiri saat Lola mulai mendeskripsikan fisik dan sifat rekan-rekan kerjanya. Gaya bahasa yang ringan membuat novel ini jadi tidak membosankan. Apalagi halamannya cukup tebal. Ide penulis menciptakan karakter Silvi, Tohir dan Poltak, yang meski hanya sebagai karakter pendukung, tapi berperan besar membuat pembacanya ngakak.

Kesimpulannya aku menyukai jalan cerita novel ini. Lebih membuka lebar mata aku, dan mengingatkan diri sekali lagi untuk bergaya sesuai kantong. Dan materi tidak selamanya menjadi kunci kebahagiaan manusia.

4 of a 5 Stars

 

Mells Book's Shelves © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor