5 Desember 2015

CEWEK MATRE by ALBERTHIENE ENDAH

Diposting oleh Unknown di 9:09:00 PM


“Kau boleh menghitung keuntungan materi dalam cinta. Tapi itu tak akan bisa menandingi kemurnian cinta.”



Judul: Cewek Matre
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi dan Desain Sampul: J. Henk Winiarti
Tebal Buku: 464 hlmn;20 cm
ISBN: 978-979-22-8087-6
Tahun Terbit: 2004

“Mana bisa hidup tenang di Jakarta? Coba lihat, di sebelah kiri kamu cewek pake tas Prada, di kanan pake terusan Gucci. Di belakang, cewek kecentilan pake kelom Dior! Jauh di depan mata, ada yang siap melototin kamu dari ujung rambut ke ujung kaki. Lalu matanya akan mengejek begitu tahu yang nempel di tubuh kamu cuma keluaran Mangga Dua.”

Lola humas di sebuah radio. Kantor yang membuatnya panas-dingin tiap hari, karena selalu berurusan dengan jetset-jetset Jakarta yang superglamor. Ia gadis yang cantik dan seksi. Mulanya ia tidak menyadari kelebihan itu. Tapi suatu hari ia sadar penampilannya bisa ditukar dengan uang.
Bahagiakah dia, setelah menjadi cewek matre?

Aku harus berterima kasih sebelumnya sama teman yang sudah memberikan novel ini kepadaku –yang sayangnya aku lupa siapa yang ngasih novel ini-. Tahun 2004 saat novel ini terbit, aku baru saja memulai tahun awal perkuliahanku. Membaca novel ini pada saat itu sudah pasti akan membuatku kebingungan dengan segala macam branded atau jenis-jenis dress yang bertaburan di novel ini. Tapi aku bisa mengambil kesimpulan untuk tokoh utama dalam novel ini. BPJS alias Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita.

Lola adalah humas di radio City Girls FM, yang nyaris setiap hari mengeluhkan gaji sebulannya yang berjumlah empat juta perak tidak cukup untuk hidup di Jakarta ini. Setiap gajian, Lola akan mulai menyusun anggaran yang sudah keluar. Dan yah, belum juga sebulan, kantongnya sudah mengerut. Lola bersahabat baik dengan Palupi, Silvia dan Renata. Tiga gadis yang hampir mirip dengan Lola dari segi finansial. Setiap hari mata mereka selalu melirik iri pada Arientha, Linda, Bianca dan Verena, yang selalu berpenampilan sophisticated dan dibalut pakaian serta aksesoris bermerek. Dari situlah timbul niatan mereka untuk berusaha menggebet atau minimal bisa berteman dengan cowok-cowok kaya agar bisa ketiban rejeki ditraktir barang-barang branded. Di antara mereka berempat hanya Lola yang berhasil menggebet cowok mapan karena fisiknya yang memang cantik. Merasa di atas angin, Lola jadi lupa diri. Bermandi uang, baju-baju mahal, tas dan sepatu branded, Lola jadi keenakan memanfaatkan kecantikan fisiknya untuk menggaet pria-pria kaya yang tergila-gila padanya. Tapi masalah datang satu per satu dan mulai merendahkan harga dirinya. Belum lagi gosip yang beredar di kantornya kalau dia menjadi simpanan om-om. Lola terusik, tapi membayangkan dirinya kembali miskin tidak meruntuhkan naluri matre dalam dirinya. Sampai dia bertemu Clift. Seorang fotografer yang memotret karyawan City Girls FM saat membuat Company Profile. Lola jatuh cinta, dan cintanya terbalas. Untuk pertama kalinya Lola melihat seorang pria tanpa memikirkan kemapanan finansial pria tersebut. Lantas berhentikah Lola menjadi cewek matre dan siap meninggalkan kehidupan glamor yang sudah dicecapnya selama satu tahun terakhir?

Jakarta memang gila. Tapi bukan berarti saya mesti gila. Hal 455

Aku agak miris saat membaca bagian prolognya, yang berisi panjang lebar pembelaan kalau menjadi cewek matre itu tidak salah, melainkan sudah tuntutan hidup. Pengen ketawa keras-keras sebenarnya. Novel ini keluar di tahun 2004, dan betapa berartinya uang sejumlah empat juta rupiah di tahun itu. Dengan catatan kita bisa mengatur pengeluaran dengan baik. Bergaya sesuai isi kantong tepatnya. Bukannya sok suci atau apa, tapi menjadi cewek matre hanya karena di sebelah kita memakai tas Louis Vuitton? Sepadankah itu dengan nama baik dan harga diri kita sebagai perempuan? Di dunia ini memang siapa yang tidak mau uang? Siapa yang tidak ingin merasakan kehidupan glamor? Tapi kalau harus memilih jalan seperti Lola, sayang banget. Apalagi Lola digambarkan mempunyai paras cantik yang masih bisa digunakan dalam hal lain, selain menggaet laki-laki kaya dan mapan. Hal lain yang aku maksudkan di sini, ada dalam cerita juga kok.

Cerita di novel ini selain mengungkapkan gaya hidup instan yang kebanyakan dipilih di jaman sekarang, juga secara tidak langsung mengajarkan kita untuk bersyukur. Kalau merasa hidup kita serba kekurangan, jangan melihat ke atas. Tapi lihatlah ke bawah. Lihat ke orang-orang yang susah payah bekerja tapi hanya bisa dapat uang yang hanya cukup untuk makan sehari saja. Kalau mata kita hanya tertuju ke atas saja, yah pastinya kita akan menjadi Lola-Lola yang berikutnya.

“Karena mata lu cuma dihabisin buat ngeliatin Arintha, Linda, lalu humas-humas sok kaya itu, klien-klien selangit. Coba mata lu sedikit diarahin ke gue. Datang dari Surabaya. Bayar kos dan hidup pake sisa gaji yang sebagian besar dikirim ke nyokap di sana. Toh gue bisa survive!”hal 385

Saat baca prolognya, aku kira Lola terpaksa jadi cewek matre karena tuntutan pergaulannya. Nggak ada barang bermerek yang nempel di tubuh kamu = nggak ada teman. Tapi ternyata Lola punya tiga sahabat yang meski selevel tingkat kere-nya, tapi tulus mau berteman dengannya dan mau melewati susah senang sama-sama. Kembali lagi ke gengsi rupanya. Aku jadi bertanya-tanya, tanpa Louis Vuitton, Prada, Celine, Fendi, Bvlgari, memangnya nggak bisa hidup di Jakarta sana yah? Hidup memang keras, tapi pasti ada jalan untuk survive. Untuk apa memedulikan pandangan atau omongan orang-orang yang mungkin hanya setahun atau beberapa bulan sekali baru ketemu, sementara di sisi kita ada keluarga yang hangat dan sahabat yang akan membuka lebar tangannya tanpa harus melihat merek mahal dan terkenal mana yang sedang menempel di tubuh kita. Aku berterima kasih pada mbak Alberthiene yang sudah menciptakan novel ini. Nggak perlu merasa kesindir, atau digurui, tapi ambil hikmahnya saja. Jangan harus jadi Lola dulu, baru bisa sadar kalau masih ada jalan lain yang lebih baik untuk mendapatkan uang. Toh pada akhirnya Lola juga jadi bisa tahu mana yang bisa menjadi sumber kebahagiaannya.

“Ternyata duit bukan cuma datang dari lelaki.” Hal 447

Selain pesan moralnya, aku sangat menikmati gaya menulis mbak Alberthiene. Dialog dan monolog yang kocak yang kebanyakan keluar dari mulut Silvi dan Tohir. Aku juga tertawa sendiri saat Lola mulai mendeskripsikan fisik dan sifat rekan-rekan kerjanya. Gaya bahasa yang ringan membuat novel ini jadi tidak membosankan. Apalagi halamannya cukup tebal. Ide penulis menciptakan karakter Silvi, Tohir dan Poltak, yang meski hanya sebagai karakter pendukung, tapi berperan besar membuat pembacanya ngakak.

Kesimpulannya aku menyukai jalan cerita novel ini. Lebih membuka lebar mata aku, dan mengingatkan diri sekali lagi untuk bergaya sesuai kantong. Dan materi tidak selamanya menjadi kunci kebahagiaan manusia.

4 of a 5 Stars

0 komentar:

Posting Komentar

 

Mells Book's Shelves © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor