11 Februari 2015

Book's Review : Happily Ever After by Winna Efendi

Diposting oleh Unknown di 3:41:00 PM


Judul : Happily Ever After
Penulis : Winna Efendi
Editor : Jia Effendi
Penerbit : Gagas Media
ISBN : 979-780-770-2
Tebal : 358 halaman
Kategori : Romance

SINOPSIS :
Tak ada yang kekal di dunia ini. Namun, perempuan itu percaya, kenangannya, akan tetap hidup dan ia akan terus melangkah ke depan dengan berani.
Ini adalah kisah tentang orang favoritku di dunia.
Dia yang penuh tawa. Dia yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Dia yang merupakan perpaduan aroma sengatan matahari dan embun pagi. Dia yang mengenalkanku pada dongeng-dongeng sebelum tidur setiap malam. Dia yang akhirnya membuatku tersadar, tidak semua dongeng berakhir bahagia.
Ini juga kisah aku dengan anak lelaki yang bermain tetris di bawah ranjang. Dia yang ke mana-mana membawa kamera Polaroid, menangkap tawa di antara kesedihan yang muram. Dia yang terpaksa melepaskan mimpinya, tetapi masih berani untuk memiliki harapan…
Keduanya menyadarkanku bahwa hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Bahwa kita perlu menjalaninya sebaik mungkin meski harapan hampir padam.
Tidak semua dongeng berakhir bahagia. Namun, barangkali kita memang harus cukup berani memilih; bagaimana akhir yang kita inginkan. Dan, percaya bahwa akhir bahagia memang ada meskipun tidak seperti yang kita duga.

REVIEW :
Lulu membenci dunia sekolah. Bukan karena PR atau ujian mendadaknya, tapi karena dia kesepian dan selalu menjadi korban bully. Yang lebih menyakitkan, Karina mantan sahabatnya termasuk salah satu yang mem-bully dirinya. Tapi di rumah, dia punya ayah yang hebat. Ayah yang membangun rumah unik untuk dirinya dan sang bunda. Ayah yang selalu membacakan cerita dongeng, walau pun tidak semua dongeng yang mereka baca berakhir bahagia. Seperti kehidupan Lulu yang diuji dengan sakitnya sang ayah. Meski pun berusaha untuk tegar, tapi Lulu tidak bisa menghindar dari luapan rasa sedih dan ketakutan kalau setiap saat ayahnya bisa pergi meninggalkan dia dan sang bunda.
Tapi selalu ada pelangi setelah hujan. Eli Gustira hadir di tengah kehidupannya. Sosok remaja yang dijumpainya di bawah kolong ranjang Rumah Sakit. Remaja biasa seperti dirinya, yang memiliki cita-cita untuk menjadi atlet renang, tapi kandas karena kanker otak. Eli yang selalu ceria, penuh optimisme yang sedikit demi sedikit menular pada Lulu. Berawal dari pertemanan biasa, kedekatan dan berujung pada satu rasa, cinta. Tapi saat Tuhan memanggil ayahnya kembali, Lulu meragu. Dia tidak ingin kembali merasakan kehilangan yang sama.
***
Hanya dalam jeda beberapa bulan, Winna kembali dengan novel yang temanya berbeda. Bukan lagi sahabat jadi cinta, melainkan ikatan istimewa antara seorang ayah dan anak, dan kisah asmara dua remaja yang nyaris memiliki kesamaan. Di awal membaca, berasa sedang membaca novel terjemahan. Seperti biasa, kalimat yang dirangkai Winna selalu indah dan quotable. Meninggalkan rasa haru yang dalam dan ketegaran begitu cerita berakhir.

Di setiap bab, Winna menyelipkan kutipan-kutipan dari buku-buku dongeng. Karakter-karakter yang dia ciptakan dalam novel ini mengajarkan kita bagaimana untuk tegar menghadapi setiap masalah dan segala hal negatif yang ditudingkan pada diri kita.  Dan yang selalu aku suka dari novel-novel Winna adalah lokasi/tempat bermukim setiap karakter yang dia ciptakan sesuai imajinasinya sendiri. Winna tidak mendeskripsikan tempat yang ada di dunia nyata, tapi merangkai sendiri tempat sesuai keinginannya. Seperti rumah Lulu, dan kompleks tempat Lulu tinggal, juga sekolahnya. Setiap kalimat yang diuntai Winna, membuat aku ikut hanyut dalam cerita. Penulisannya seperti biasa, khas Winna banget, rapih dengan deskripsi yang detil. Ditambah aku tidak menemukan kesalahan penulisan huruf.

Berikut ini kutipan yang aku favoritkan dari novel ini :
-      Hidup adalah sebuah hak istimewa. Karenanya kita perlu melakukan kewajiban kita untuk menjalaninya sebaik mungkin. (Halaman 99)
-      Jatuh cinta itu nggak pake milih. Nggak milih waktu yang tepat atau momen yang pas. tahu-tahu, kamu udah jatuh cinta. (Halaman 105)
-      Hidup terlalu singkat untuk cuma punya satu tempat favorit. (Halaman 119)
-      Di luar kondisi semacam ini, kita akan tetap berteman. Sesimpel itu. (Halaman 134)
-      Di dunia ini, nggak semua orang dapetin apa yang mereka mau.” (Halaman 140)
-      Hati yang melihat, hati yang merasakan, hati yang tahu. (Halaman 145)
-      Kadang-kadang, kita cukup beruntung untuk ketemu orang-orang yang baik dalam kondisi yang buruk. (Halaman 149)
-      Aku ingin menjadi diriku sendiri, dan untuk itu aku tak memerlukan izin mereka. (Halaman 170)
-      Kita boleh memiliki mimpi-mimpi yang baru meskipun apa yang paling kita inginkan nggak tercapai. (Halaman 176)
-      Nggak semua cerita punya akhir yang bahagia. Begitu pula hidup. Bahkan, sering kali hidup punya kejutan sendiri. (Halaman 184)
-      Andai saja, hidup ini juga memiliki banyak akhir yang bahagia. (Halaman 195)
-      Saat ini, aku ingin menjadi sumber kekuatannya. Aku ingin menjadi matahari dalam langitnya, alasannya untuk tertawa dan untuk tetap hidup. (Halaman 230)
-      Tapi, suatu hari nanti, sama seperti kegelapan yang meliputiku, aku akan melihat matahari kembali terbit dan merasakan kehangatannya. (Halaman 249)
-      Alam semesta ini punya rahasianya sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah percaya pada rencana-rencana di baliknya. (Halaman 251)
-      Tapi, asal cinta nggak penting. Yang penting adalah menjaga perasaan yang kalian bagi. (Halaman 266)
-      Kadang, sebuah cerita yang bagus punya akhir yang sedih. (Halaman 275)
-      Yang tak pernah dia katakan adalah, dia berada bersama orang-orang itu untuk meminjamkan harapan, ketika mereka telah kehilangannya. (Halaman 321)
-      Dan, jika selamanya tidak permanen, kami akan mengisi masa sekarang dengan kenangan-kenangan yang akan bertahan. (Halaman 348)
-      Seize the day, live in the moment, hope for tomorrow. (Halaman 348)
-      Hidup adalah kanvas kosong. Kamu bebas menciptakan ceritamu dan menentukan akhirnya. (Halaman 354)

Pesan moral yang aku tangkap dari novel ini yaitu, bagaimana kita belajar untuk tegar, dan menyadari kalau hidup tidak selamanya berjalan mulus. Hanya tinggal bagaimana diri kita menghadapi semua masalah. Aku juga belajar, tidak selamanya kita harus mengenang kepergian orang yang kita sayangi dengan airmata, seperti cara Lulu dan bunda mengenang kepergian ayahnya. And last but not least, bagaimana kita bisa berguna untuk orang lain di sisa hidup. Dan buat Winna, terima kasih sudah membuatku tersenyum begitu aku menutup lembaran terakhir. Happily Ever After menjadi karya Winna yang paling aku favoritkan.


5 of a 5 stars

0 komentar:

Posting Komentar

 

Mells Book's Shelves © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor