9 Januari 2015

Resensi Novel Friends Don't Kiss by Syafrina Siregar

Diposting oleh Unknown di 11:06:00 AM

Judul Novel : Friends Don’t Kiss
Penulis : Syafrina Siregar
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 208 halaman
Harga : Rp. 46.000,-
Kategori : Fiksi, Metropop, Romance


Sinopsis :
“In case you forgot, Mia, friends don’t kiss.”
Bagi Mia Ramsy, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu bagi anaknya. Tapi bagi Ryan Subagyo, setiap mendengar kata “menyusui”, yang muncul di benaknya hanyalah bayangan payudara wanita.
Namun, kegigihan Mia memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif lewat Indonesia Braestfeeding Mothers –organisasi nirlaba tempat gadis itu mengabdi- justru semakin membuat Ryan jatuh cinta padanya.
Ryan semakin yakin Mia berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui. Kekayaan, kesuksesan, dan ketampanannya memang membuat Ryan dikejar banyak gadis, tetapi belum ada yang mampu menggetarkan hatinya. Hanya Mia yang mampu membuat Ryan untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan.
Namun, apakah lamaran Ryan akan diterima jika gadis itu mengetahui siapa Ryan Subagyo sebenarnya?
***
Dari awal sudah tertarik dengan novel ini karena isu pentingnya ASI yang diangkat dibalik kisah romansa antara Ryan dan Mia. Tidak hanya menjual romansa, tapi penulis juga ‘ikut’ berkampanye soal pentingnya ASI untuk bayi. Di awal cerita, kita disuguhi info-info penting seputar ASI. Bagaimana cara agar ASI bisa keluar, dan beberapa istilah seperti Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan Perlekatan. Dua jempol juga untuk Mia yang meski pun memiliki bengkel besar warisan dari ayahnya, tapi memilih untuk menjadi sukarelawan di organisasi Indonesia Breastfeeding Mothers. Sekali pun tidak digaji, tapi Mia tulus menjalani tugasnya sebagai konselor laktasi, dan gigih berjuang agar para bayi mendapatkan hak ASI-nya.
Konfliknya pun menarik, karena Ryan dan Mia, dua pribadi yang berseberangan tapi saling jatuh cinta. Ryan yang seorang pemilik perusahaan susu formula Prima Gold, jatuh cinta kepada Mia. Meski pun dia tahu betapa kesalnya Mia pada perusahaannya yang beberapa kali melanggar Keputusan Menteri mengenai Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu. Dari novel ini juga aku jadi tahu poin-poin penting dalam KepMen tersebut dan etika pemasaran susu formula yang dikeluarkan WHO pada tahun 1981.
Tokoh Ryan sendiri bikin klepek-klepek juga karena perhatiannya yang begitu besar pada Mia dan pilihan sulit yang diambilnya demi memilih Mia sebagai calon istrinya. Padahal sebelumnya, pernikahan tidak pernah ada dalam kamusnya.

‘Well marriage is a lifetime commitment, isn’t it? Unless he’s damn sure, he’s not going to do it.’ (Halaman 49)

Perlakuannya pada Mia, yang meski pun termasuk tindakan sederhana, tapi begitu manis. Bukan cuma Mia deh yang klepek-klepek, tapi aku juga ikutan klepek-klepek. Gimana nggak klepek-klepek kalau tiba-tiba dia sudah muncul di depan pintu apartemen dan bilang kalau dia mampir cuma untuk melihat Mia. Walau pun terkadang, Ryan bertindak seperti seorang stalker yang tiba-tiba saja sudah muncul di apartemen Mia, tapi sikap gentleman dia mampu menghapus rasa ngeri yang sempat timbul. Menambah nilai plus juga, walau berkali-kali Ryan mengatakan kalau Mia sudah membangkitkan nafsu primitif dalam dirinya, tapi Ryan tidak memperlakukan Mia dengan seenak nafsunya juga.

“Kamu sudah menghidupkan setiap kepekaan primitif dalam diriku. Sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak bisa mengontrolnya.” Ryan (Halaman 88)

Selain isu pentingnya ASI dan sikap Ryan yang bikin meleleh, gaya bahasa penulis juga enak dan mengalir. Tidak berkesan kaku dan membosankan. Dialog antara Mia dan Ryan juga manis tapi tidak terkesan gombal, dan kadang sarkastis tapi terkesan lucu. Novel ini juga informatif membahas detil mengenai ASI, mulai dari kandungan dalam ASI yang menjadi modal kekebalan bagi bayi, fakta bahwa bayi menangis tidak selamanya karena masih merasa lapar dan info-info penting lain yang akan diketahui setelah membaca novel ini. Riset yang dilakukan penulis membuatku mengacungkan dua jempol.

Tapi membaca novel ini, nggak selamanya bikin senyum-senyum sendiri. Sikap Mia yang terkadang terlalu idealis membuatku selalu berdecak sebal. Sikap idealis Mia bukan hanya ketika berhadapan dengan Ryan saja, tapi saat dia tengah menjadi konselor laktasi. Mungkin karena semangatnya yang terlalu berapi-api, Mia malah terkesan menceramahi. Seolah-olah setiap ibu yang memberikan tambahan susu formula pada sang bayi itu berdosa. Tidak heran kalau dia harus menghadapi kekesalan adiknya, Lia, yang merasa kalau Mia hanya tahu teori. Dan idealisnya Mia itu juga seolah-olah menggambarkan kalau dirinya begitu memusuhi susu formula diseluruh dunia dan para penciptanya. Tapi pada akhirnya dengan kritikan dari Lia dan dorongan dari Gina, temannya, Mia jadi tahu bagian mana dari dirinya yang salah selama dia menjadi konselor laktasi.

“Idealisme lo nggak pernah ada yang konyol. Tapi bantu gue dengan berdiri disebelah gue, bukan di depan gue.” Lia (Halaman 135)

Aku sendiri merekomendasikan novel ini untuk dibaca semua kalangan. Walau pun sebenarnya ini novel romance, tapi bersifat informatif dan edukatif. Mungkin pembaca yang belum menikah akan merasa agak flat atau kurang dapat feel-nya di awal cerita karena memang pure membahas soal ASI. Ada beberapa kejanggalan juga sih, seperti si Lia yang sudah mampu menangis dan berteriak padahal dia baru saja menjalani operasi cesar. Itu kan sakit, ngomong aja masih harus pelan-pelan apalagi sudah berteriak. Yang janggal juga, perusahaan sekaliber Prima Gold yang masih melanggar kode etik pemasaran pengganti Air Susu Ibu apalagi sampai mengiklankan susu formula mereka untuk bayi dibawah satu tahun. Tapi yah namanya juga cerita fiksi, pasti ada kan yang mungkin bertentangan dengan kenyataan, tapi masih bisa diterima akal sehat. Yang jelas tidak ada something missing dalam novel ini yang membuat pembaca jadi bingung di bab-bab terakhir.
Walau pun ada beberapa kejanggalan, dan ending-nya terlalu mepet, tapi karena diksinya yang enak, isu pentingnya ASI yang diangkat dan membuat novel ini berbeda, semangat Mia menjadi konselor laktasi, dan Ryan yang dominan tapi sweet, membuatku tidak ragu memberikan 3 bintang.


3 of a 5 star for Friends Don’t Kiss. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Mells Book's Shelves © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor