24 November 2015

MARRY NOW SORRY LATER by CHRISTIAN SIMAMORA

Diposting oleh Mellisa Assa di 5:24:00 PM 0 komentar


Judul: Marry Now Sorry Later
Penulis: Christian Simamora
Editor: Alit Palupi
Penerbit: Twigora
ISBN: 9786027036222
Tebal Buku: 438 halaman
Tahun Terbit: 2015




“BERSEDIAKAH SAUDARA MENGASIHI DAN MENGHORMATI ISTRI SAUDARA SEPANJANG HIDUP?”
Sejak awal Jao Lee sudah tahu, Reina tak mencintainya. Namun, menikah dengan putri satu-satunya direktur Hardiansyah Electronics itu memberi ilusi cukup bahwa Jao memilikinya. Salah besar. Reina justru melakukan sesuatu yang tak pernah Jao duga selama ini: kabur sebelum acara resepsi dimulai.
“ADAKAH SAUDARA MERESMIKAN PERKAWINAN INI SUNGGUH DENGAN IKHLAS HATI?”
Setelah enam bulan Reina bersembunyi, akhirnya Jao berhasil menemukan Reina. Seperti dugaannya, suaminya itu memaksanya pulang bersama ke Jakarta. Memangnya apa yang dia harapkan? Semacam membuka lembaran baru dan hidup bersama sebagai suami-istri sungguhan?
“SAYA BERJANJI SETIA KEPADANYA DALAM UNTUNG DAN MALANG, DAN SAYA MAU MENCINTAI DAN MENGHORMATI SEUMUR HIDUP.”
Ini cerita tentang dua orang yang tak saling cinta, tapi bertahan untuk teta      p bersama. Sampai kapan mereka akan terus berusaha? Perlukah mereka jatuh cinta dulu supaya bisa bahagia?
***
Sebelum masuk ke bagian review, aku mau teriak kencang-kencang dulu. LOVE YAAAAAAA JAO LEE :D dan yah, sebenarnya aku selesai baca novel ini dari tanggal 15 Agustus kalau tidak salah. Tapi, yah karena kesibukan –atau sok sibuk- aku baru bisa menulis reviewnya sekarang.

Hardiansyah Electronics nyaris bangkrut. Reina tahu itu, dan perusahaan peninggalan ayahnya akan jatuh ke tangan Jao Lee, CEO muda single dan sukses. Demi memikirkan ribuan karyawan yang mencari nafkah di bawah bendera Hardiansyah Electronics, Reina nekat menemui Jao Lee untuk meminta perpanjangan deadline pelunasan hutang. Kenekatan Reina membuat dia berakhir bercinta dengan Jao Lee saat deadline berakhir, karena Reina salah mengartikan dan menganggap serius ucapan Jao yang secara tidak langsung mengatakan, kalau Reina mau tidur dengannya, hutang mungkin bisa dianggap lunas. Jao sendiri pada awalnya hanya ingin bicara empat mata dengan Reina saat dihubungi lewat telepon oleh Reina. Dia ingin mengatakan kalau maksudnya tidak seperti itu. Tapi saat melihat tubuh seksi Reina, Jao lupa dengan niat awalnya.
Setelah bercinta dengan Reina, Jao jadi ingin memiliki Reina. Dengan alasan, Reina berbeda dengan perempuan lain yang pernah tidur dengannya. Jao jadi mengajukan lamaran pernikahan dengan Reina, yang awalnya ditolak mentah-mentah oleh Reina dengan alasan harga diri. Tapi saat menyadari ucapan Jao Lee ada benarnya bahwa dia tidak bisa hidup susah, dengan terpaksa Reina menerima lamaran Jao dengan syarat pernikahan itu hanya akan berjalan selama satu tahun.
Reina kabur sebelum resepsi dimulai dan enam bulan kemudian Jao berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Reina dipaksa pulang dan mulai menjalani kehidupan sebagai istri seorang Jao Lee. Tentu saja dia menolak satu kamar dengan Jao. Tapi semakin hari menjalani kehidupan sebagai nyonya Lee, Reina mulai melihat Jao dengan sudut pandang berbeda. Mulai menyadari kalau Jao memang baik dan tulus kepadanya. Saat masing-masing mulai membuka diri, Reina mulai khawatir dengan pernikahannya. Saat mengetahui kalau Jao ingin serius dan mempertahankan pernikahan, Reina mulai ragu. Karena dari awal, Reina menikah dengan Jao bukan berdasarkan cinta. Bagaimana akhir hubungan mereka? Don’t ever miss this book.

Ini perasaanku saja atau memang dari beberapa JBoyfriend series yang sudah aku baca, bang Chris sengaja menciptakan tokoh utama perempuannya sebagai karakter yang keras kepala? Ini seri JBoyfriend favorit aku sejauh ini. Pertama, karena tokoh Jao Lee tentu saja. Meski bergelimangan harta dan bisa membuat perempuan manapun bertekuk lutut, demi menjadi pendamping hidupnya, tapi Jao bisa menghargai perempuan. Mengingat dia tumbuh dalam keluarga broken home, saat sang ibu memilih meninggalkan dia dan ayahnya tanpa rasa bersalah karena jatuh cinta pada pria lain. Walau harusnya dia bisa menaklukkan Reina dengan kuasa dan materinya, tapi Jao memilih untuk bersabar dan menghormati keputusan Reina. Reina pun sebenarnya perempuan yang mengagumkan pula, dibalik sifat keras kepalanya. Nggak jarang aku dibikin tertawa dengan dialog-dialog antara Reina dan Jao.
Unsur seksual dalam novel ini juga nggak seliar novel lainnya. Tapi tetap saja yah harus 17 tahun ke atas baru bisa baca novel ini. Temanya juga beda dengan novel lainnya, karena temanya pernikahan. Jelas nggak gampang untuk bang Chris menulisnya karena dia sendiri belum menikah dan jelas belum merasakan langsung seperti apa kehidupan setelah menikah. Tapi dia bisa mengemas cerita dengan baik dan tidak dibuat-buat. Mengangkat kehidupan para sosialita, mulai dari cara berbisnis, berpesta sampai acara amal juga menjadi bagian menarik lainnya dari novel ini. Dan tidak ketinggalan, kisah persahabatan juga tetap ada.
Membaca novel ini aku dibuat terpesona oleh Jao Lee, ketawa sampai ngakak oleh Reina dan dua sahabat barunya, gemes-gemes bĂȘte mendekati ending cerita, dan bisa bernapas lega di akhir cerita. Kalau bisa spoiler dikit yah, happy ending kok ceritanya. Tapi menuju happy ending itu harus sabar dulu dengan keras kepalanya Reina.

4,5 of 5 Stars

ORANGE by WINDRY RAMADHINA (REPACKAGED)

Diposting oleh Mellisa Assa di 10:30:00 AM 0 komentar


‘Dikuncinya pintu belakang lalu ia bersandar lemas pada pintu tersebut. Ia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.
Ah, dirinya kesal setengah mati.’
Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tidak bisa melepas masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.
Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artificial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.
Pertanyaannya: apa…dan siapa?

Judul: Orange (Repackaged)
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Christian Simamora & Ayuning
Penyelaras Aksara: Gita Romadhona
Desain Sampul: Agung Nugroho
Ilustrator Isi: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 978-979-780-819-8
Tebal Buku: 306 Halaman

Fayrani ‘Faye’ Muid, fotografer handal yang lahir di keluarga pengusaha kaya raya, yang lebih memilih menekuni dunia fotografer daripada terjun ke dunia bisnis keluarganya, padahal dia anak tunggal. Faye begitu menyukai buah jeruk, dan begitu menikmati rasa manis dan pahit yang ada pada buah jeruk. Seperti kehidupan cintanya yang manis dan pahit.
Saat diijinkan mengambil sekolah fotografi oleh kedua orangtuanya, Faye sudah berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan kedua orangtuanya. Dan Faye tidak dapat menolak saat dijodohkan dengan Diyan Adnan. Putra sulung keluarga Adnan, CEO perusahaan besar dan sukses. Keduanya tidak menolak perjodohan tersebut, dan dua-duanya menyadari kalau perjodohan mereka jug merupakan ikatan bisnis antara keluarga Muid dan Adnan. Tapi Faye berubah pikiran saat mulai bertemu dan mengenal Diyan. Meski sering kecewa dan kesal karena Diyan lebih sering menghubunginya lewat Rei -sepupu dan juga sekretaris Diyan- tapi Faye tidak bisa menampik kalau dia sudah jatuh cinta dengan Diyan. Sementara Diyan sendiri mulai tertarik dengan Faye yang berbeda dengan perempuan kebanyakan. Tapi saat Rera kembali muncul, Diyan pun masih belum bisa melupakan mantan kekasih yang tiga tahun menjalin hubungan dengannya tapi memutuskan hubungan karena lebih memilih karir.
Apakah pada akhirnya Diyan akan tetap melanjutkan pertunangannya dengan Faye, atau justru memilih kembali pada Rera? Silahkan dibaca novelnya :)

Aku mengenal karya Windry di novel London –tapi maaf belum selesai dibaca-, tapi aku mulai jatuh cinta dengan karyanya setelah membaca Montase dan Interlude. Sudah lama penasaran dengan karya pertamanya ini, maka aku tidak melewatkan kesempatan saat novel ini dicetak kembali. Yang aku suka dari karya-karyanya Windry, tema percintaannya selalu berbeda, profesi yang ditekuni tokoh utamanya juga selalu berbeda, tapi ciri khasnya selalu ada di setiap karya-karyanya. Ciri khas yang aku maksudkan di sini adalah gaya menulisnya yang lembut tapi bisa mengaduk-aduk emosi.
Aku suka karakter Faye di novel ini. Unik dan sederhana. Sekalipun terlahir dari keluarga kaya-raya, tapi selalu tampil apa adanya dan jadi diri sendiri. Dan, yah, laki-laki mana pun pasti akan hanyut pada pesona Faye begitu mengenalnya lebih dekat. Aku juga salut dengan sikap sportif Faye saat berhadapan dengan Rera. Sebaliknya, aku nggak terlalu terpesona dengan Diyan karena menurutku pastinya akan sangat membosankan bertunangan dengan laki-laki yang kesehariannya bergantung pada agenda yang disusun oleh sekretarisnya. Belum lagi sifat plin-plannya, yang bukan cuma melukai Faye, tapi menyakiti Rera juga.
Orange ini temanya mainstream sebenarnya, perjodohan dan bayang-bayang mantan kekasih. Kita akan diajak memasuki kehidupan keluarga Adnan, dimana kendali dalam kehidupan rumah tangga dan anak-anaknya lebih dominan dipegang oleh Indra Adnan, sang ibu. Munculnya tokoh Zaki, juga menambah konflik tersendiri. Meski, konfliknya memang tidak terlalu rumit. Ala-ala drama Korea menurutku, melihat keseharian mereka yang segala sesuatu disusun oleh sekretaris atau asisten pribadi. Tapi kesan mewah dan glamour-nya masih kurang memang. Windry harusnya bisa lebih detil menggambarkan kehidupan keluarga Adnan dan Muid yang hidup bergelimangan harta. Tapi aku tetap jatuh hati dengan novel ini. Aku suka cara Windry menuturkan cerita, dan di novel ini latar belakang profesi Faye dan Diyan tidak terlalu dalam dibahas oleh Windry, jadi ceritanya memang lebih terpusat pada dua tokoh utamanya. Pesan moralnya seperti biasa, manusia tidak akan pernah menyadari arti seseorang di hidupnya sampai seseorang berlalu dari hidup mereka.
Tapi untuk ukuran novel debut, Orange berhasil memikat hatiku dengan untaian kalimat sederhana Windry tapi jauh dari kesan kaku. Yang mendambakan cerita romansa ringan, atau yang menyukai karya-karya Windry Ramadhina, novel ini bisa menjadi pilihan tepat dan sayang untuk dilewatkan.
3,5 of 5 Stars.

25 Agustus 2015

CRITICAL ELEVEN's REVIEW

Diposting oleh Mellisa Assa di 1:19:00 PM 2 komentar



Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat –tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing - karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger. In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah – delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sidney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.
Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Editor: Rosi L. Simamora
Desain Sampul: Ika Natassa
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku: 344 halaman;20 cm
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-03-1892-9

Kutipan monolog dan dialog favorit:
- Aku laki-laki yang sudah kamu pilih, Nya, dan sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kamu mengubah pilihan itu. Hal 34
-  Lagi pula, aku piker cinta itu untuk dirasakan sendiri kan, bukan untuk dijelaskan ke orang lain? Hal 36
-  I’ve burned my bridges. There’s no turning back. There’s only going forward, with you. Hal 38
- Hidup memang tidak pernah se drama di film, tapi hidup juga tidak pernah segampang di film. Hal 40
- Kata orang, saat kita berbohong satu kali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sendiri. Hal 57
- Tidak ada yang bisa mengerti kecuali pernah mengalami rasanya saat kebahagiaan orang lain justru mengingatkan kesedihan diri sendiri. Hal 93
- Kata orang waktu akan menyembuhkan luka, namun duka tidak semudah itu bisa terobati oleh waktu. Hal 95
- What’s between a man and a woman in a marriage is only between the man and the woman. Hal 131
- Karena beginilah dari dulu gue mencintai Anya. Tanpa rencana, tanpa jeda, tanpa terbata-bata. Hal 142
- In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lose more than everything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that. Hal 153
- We didn’t know what we really wished for. Hal 157
-  Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita. Hal 252
-  Too much hate in the world already, we need people to show love. Hal 270

Reaksi pertama setelah selesai membaca novel ini adalah speechless. Mungkin karena speechless itu sampai aku harus menunda beberapa hari untuk membuat reviewnya. Novel ini berbeda dengan novel-novel sebelumnya dari segi emosional. Setelah membaca bentuk cerpennya dalam kumpulan cerpen di Autumn Once More, tadinya aku kira ceritanya pertemuan kembali Ale dan Anya bertahun-tahun kemudian setelah pertemuan pertama mereka di pesawat. Bukan ternyata. Yang menggembirakan adalah mereka sudah menikah di novel ini. Dan rumah tangga Ale dan Anya dianalogikan seperti pengertian Critical Eleven yang sudah dijelaskan di sinopsis.
  
This story is about dealing with the grief. Kak Ika banyak bermain dengan teknik dalam penulisan novel ini. Teknik yang bagaimana? Teknik yang bagaimana mengemas kalimat per kalimatnya agar pembaca tidak mudah bosan. Kita akan diajak berputar-putar dulu sebelum sampai ke inti cerita. Seperti saat Ale diberi nasehat dari sang ayah, cara memperlakukan wanita dengan baik dan benar, sebelumnya justru kita akan menyimak bahasan soal Yirgacheffe –kalau tidak salah ingat jenis biji kopi- dan cara pembuatannya sampai mendapat rasa yang pas sebelum sampai ke inti cerita. Banyak bahasan penting yang juga diselipkan kak Ika di novel ini dan dipaparkan panjang lebar. Kalau bukan teknik penulisan dan cara bercerita kak Ika yang cool, mungkin novel ini sudah lama ku-skip, meski ada beberapa bagian juga yang aku skip karena rasa tidak sabar ingin segera sampai ke inti cerita. 

Bukan cuma harus bersabar dengan alur cerita, kita juga –atau mungkin cuma aku- harus banyak-banyak bersabar dengan Anya. Yah, aku juga perempuan dan entah bagaimana aku harus berdamai dengan rasa duka kalau aku mengalami hal yang serupa dengan Anya. Tapi Anya, kamu ngambeknya kelamaan dan keterlaluan sayang. Di awal cerita aku dibikin penasaran dengan apa yang terjadi pada Anya dan Ale. Flashback kisah cinta mereka dulu terlalu manis untuk menempatkan mereka seperti keadaan sekarang yang diceritakan dalam novel dan juga menjadi konflik utamanya. Tapi memang harus kuakui kalau kita –khususnya yang sudah berumah tangga- akan banyak berkaca dari novel ini. Anya mewakili sifat perempuan kebanyakan. Kalau sudah ngambek, laki-laki bakalan pusing dan bingung bagaimana cara membujuk kembali. Yang sepatah kata maaf lebih berarti ketimbang perbuatan yang mencerminkan kata maaf, yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Aku yang emosian dan gampang meledak aja kalau sudah dibaikin, dan terang-terangan suamiku bilang nggak akan pernah melepaskan aku sebagai istri dan pendamping hidupnya, pastilah bakalan klepek-klepek dan langsung luluh. Yang begituan nggak mempan buat Anya. Seuntai kalimat ‘tolol’ yang nggak sengaja diucapkan Ale mengubah segalanya. Yang bikin gemes adalah, Anya yang jelas-jelas tidak sanggup memusnahkan seorang Aldebaran Risjad dari pikrannya, tapi keras bertahan bagai karang yang tak goyah dihantam ombak. Please deh Anya, korban KDRT aja kalau udah dibaikin masih mau balikan lagi. Terlalu banyak bertanya-tanya tanpa ada niat mau mencoba memberikan kesempatan kedua. Menuntut Ale untuk menjauh, setelah dituruti, menuduh kalau Ale juga tidak mau berusaha. Maumu apa sih Nya? But that’s woman. I kind be a like that sometimes. 

Sementara Ale? Aku bisa cukup mengerti posisi Ale. Dan karena dia bukan tipe laki-laki romantis yang dengan kalimat ajaibnya mampu menghipnotis para perempuan, dia lebih memilih menyampaikan permohonan maaf dengan perbuatan. Menuruti permintaan Anya, Ale bersedia menjauh, tapi tidak pernah berhenti menjadi suami Anya. Ale berusaha meminta maaf lewat perbuatan, tapi tentu saja tidak cukup. Satu kalimat tolol yang mengubah lima tahun hubungan asmara mereka. Tapi sekali lagi, harus banyak berkaca. Kenapa satu kalimat itu bisa meluncur dari mulut seorang suami yang juga tengah berduka. Salahnya Ale di sini hanya satu, kalimat itu keluar di momen yang tidak tepat. 

Aku jadi mengerti maksud kalimat ‘yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya’, yang tertulis di bagian belakang cover novel. 

Nggak perlu repot-repot bolak-balik buka kamus saat baca novel ini. Berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang di setiap lembar halaman ada kalimat berbahasa Inggris-nya, di novel ini tidak banyak bertabur kalimat-kalimat berbahasa Inggris. Tetap masih ada, tapi tidak banyak dan bisa ditolerir. Aku harus mengakui kalau novel ini mampu menggeser kedudukan Twivortiare sebagai novel Ika Natassa yang paling aku favoritkan dari posisi pertama jadi posisi kedua. Perasaanku benar-benar diaduk-aduk, tapi puncaknya begitu mendekati ending dan airmataku tumpah. Rangkaian kalimat demi kalimat, monolog Anya dan Ale, deskripsi-deskripsi panjang yang dikemas baik hingga tidak membuatku menguap karena bosan, dialog-dialog lucu, bagaimana sweet-nya Ale dalam menggambarkan rasa cintanya untuk seorang Anya, dan selipan cerita Harris saat melamar Keara, semuanya bikin nagih. Enggan berhenti sebelum usai. And yeah, yang kangen Harris, he’s here, dengan proporsi yang cukup sehingga tidak mengalihkan perhatian pembaca dari Ale ke Harris. Dan sampai novel kelima ini –selain Underground yang belum pernah kubaca- Harris jadi satu-satunya karakter bad boys dalam setiap novel kak Ika.  

Kesimpulannya, Critical Eleven mampu menyentuhku dengan cara berbeda, dan juga memberi pelajaran bagaimana mengambil sikap saat mengalami kejadian seperti yang menimpa Anya. Dan yang paling membuatku kagum adalah bagaimana Ale dan Anya menjaga rahasia masalah keluarga mereka. What's between a man and a woman in a marriage is only between the man and the woman. I gave perfect star for this book. 

5 of a 5 stars.

19 Agustus 2015

Tentang Kita's Review

Diposting oleh Mellisa Assa di 3:53:00 PM 0 komentar

Judul: Tentang Kita
Editor: Herlina P. Dewi
Proofreader: Weka Swasti
Penerbit: Stiletto Book
Tebal Buku: 205 halaman
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-7572-37-9
Kategori: Fiksi, Kumpulan Cerita Pendek
(Hadiah Arisan Buku Stiletto Book Club)
 
Kumpulan cerpen Reda Gaudiamo ini ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang : dari akhir 1980-an hingga 2014. Warna dari masa ke masa cukup terasa pada beberapa cerpen. 
Tetapi ada satu hal penting yang mengikat satu cerpen dengan cerpen yang lain: semua berkisah tentang keseharian, tentang hati dan cinta manusia biasa.
***
Pertama-tama mau bilang TERIMA KASIH BANYAK buat Stiletto Book Club yang sudah memilih aku sebagai pemenang arisan buku Stiletto Book Club. Dan aku senang dihadiahi novel ini. Berisi 17 kumpulan cerita penulis yang sudah pernah dimuat di berbagai media massa -koran dan majalah-. Semua cerita seperti yang tertulis di cover belakang novel, berkisah tentang keseharian manusia. Bagaimana kita berusaha meyakinkan ayah tercinta untuk bisa menerima lelaki pilihan kita. Atau cerita seorang ibu yang anaknya harus mengikuti kemauannya. Ada juga kisah penyesalan seorang istri yang lebih memilih berkarir sehingga lalai mempertahankan janin yang dikandungnya. Semua kisah mengingatkan kita untuk belajar berkaca pada diri kita sendiri. Dan betapa keluarga adalah hal berharga yang tidak pantas kita gantikan dengan uang atau kemewahan atau jabatan.
Isi cerita sesuai dengan covernya. Permen warna-warni bercampur dalam satu wadah. Seperti manusia di muka bumi ini dengan beragam karakter dan kehidupan yang dijalani masing-masing. Dari 17 cerita, aku memfavoritkan 7 kumpulan cerita yang membuatku nagih dan pengen ceritanya lebih panjang karena masih penasaran dengan endingnya, yaitu:
1. Mungkin Bib Benar
2. Anak Ibu
3. Potret Keluarga
4. Menantu
5. Taksi
6. Cik Giok
7. Di Pagi Hari
Berharap kalau penulis mungkin akan mengembangkan cerita pendeknya menjadi sebuah novel.
Keseluruhan ceritanya sederhana tapi menimbulkan kesan mendalam dan pelajaran hidup yang berharga. Aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca semua kalangan. Semoga kita bisa lebih mensyukuri hidup yang kita punya.

Girls In The Dark's Review

Diposting oleh Mellisa Assa di 12:44:00 PM 0 komentar
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu ...?
Gadis itu mati.
Ketua klub sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi ...
Kau pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Judul: Girls In The Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penyunting: Nona Aubree
Proofreader: Dini Novita Sari
Design Cover: Kana Otsuki
Penerbit: Haru
Tebal: 279 halaman;19 cm
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-7742-31-4
***
Woooooow. Hanya itu yang terucap dari bibirku setelah menyelesaikan lembaran terakhir novel ini. Dikemas dengan cara berbeda yaitu dalam bentuk kumpulan cerita dari masing-masing tokoh di dalam novel ini.
Cerita dibuka dengan kata pengantar dari Sumikawa Sayuri -wakil ketua klub Sastra- saat klub Sastra mengadakan pertemuan untuk mengenang kematian mantan ketua mereka Shiraishi Itsumi. Itsumi yang populer karena kecantikan dan kekayaan orangtuanya. Itsumi ditemukan bunuh diri, melompat dari gedung sekolahnya dengan menggenggam setangkai bunga lily. Sayuri kemudian memutuskan setiap anggota klub Sastra membuat cerita pendek yang bercerita mengenai Itsumi. Nitani Mirei, Kominame Akane, Diana Detcheva, Koga Sonoko dan Takaoka Shiyo bergantian membacakan kenangan mereka akan sosok Itsumi. Namun, bukan hanya kenangan tentang Itsumi saja yang mereka curahkan dalam cerita pendek tersebut. Masing-masing anggota klub Sastra malah saling menuduh siapa yang dicurigai membunuh Itsumi dengan cara mendorongnya dari lantai 2 gedung sekolah mereka.
Aku sangat menikmati membaca novel ini. Karena baru dicerpen pertama yang ditulis Nitani Mirei, aku sudah benar-benar tertarik. Penasaran karena setiap cerpen yang ditulis anggota klub Sastra sepertinya berbeda dengan kenyataan. Penasaran juga siapa sebenarnya yang sudah membunuh Itsumi dan jadi ikutan menganalisa juga. Tipikal dari novel terjemahan Asia, yaitu deskripsi di awal cerita yang mungkin kepanjangan. Di novel ini juga kita harus bersabar-sabar dulu membaca kata pengantar dari Sayuri tentang Itsumi, klub Sastra mereka dan kegiatan yami-nabe yang jadi agenda rutin klub Sastra. Tapi begitu memasuki inti ceritanya, kita akan dibuat hanyut dengan alur ceritanya dan enggan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Siap-siap dibuat terkejut dengan twist ending-nya, yang benar-benar diluar dugaan.

4 of a 5 stars

13 Agustus 2015

Angin Bersyair's Review

Diposting oleh Mellisa Assa di 1:46:00 PM 0 komentar
Penulis: Andrei Aksana
Editor: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 216 halaman;20 cm
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-03-1158-6
Kategori: Romance, Novel Sastra




SINOPSIS:
Berbekal secarik kertas aku berangkat. Dituliskan begitu tergesa oleh Kiev, arsitek yang menjadi kekasihku, di atas selembar kertas yang sembarang dirobek. Alamat tanpa nama jalan dan nomor, membawaku menjelajahi Ubud.

Di sanalah aku memulai titik nol. Membaca isyarat-isyarat alam yang disampaikan sawah, sungai, lembah. Mempertemukanku dengan Raka, dosen seni dan pelukis, yang mengajariku tentang ketabahan yang sederhana, dan Nawang, dunia yang diam, yang memperkenalkanku kepada angin.
Jawaban yang kucari malah menuntunku menemukan kertas-kertas yang lain. Rahasia-rahasia, yang dikisahkan angin ....

***

Novel sastra biasanya not a cup of my tea. Tapi aku larut dan terbuai dalam tiap untaian kalimat yang ditulis Andrei. Dan novel ini juga jadi karya pertama penulis yang kubaca.

Angin Bersyair mengisahkan kisah sepi milik Sukma. Yang menjalin hubungan terlarang dengan Kiev, bos-nya yang sudah memiliki istri. Kiev sanggup memenuhi segala keinginan Sukma, terkecuali satu yaitu pernikahan.
"Apa pun akan kulakukan untuk membahagiakanmu, begitu katanya. Kecuali mengawinimu." Hal 23.

Saat hadiah ulang tahun dalam bentuk secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat diberikan Kiev untuk Sukma, disitulah kehidupannya berubah. Alamat yang diberikan Kiev membawa Sukma ke Ubud. Membuatnya bertemu Raka dan Nawang. Dua orang yang perlahan mengubah hidupnya, yang membawanya menelusuri sejarah Ubud. Raka yang membuatnya kembali menemukan cinta dan merasa dicintai hingga pada akhirnya dia sanggup melepas cintanya untuk Kiev. Nawang yang mencinta dalam diam.

Bertabur kalimat indah, beberapa diantaranya menjadi favoritku. Yaitu:
- Tidak seorang pun di dunia ini, tidak juga aku, yang akan menolak untuk pergi ke Nirwana. Hal 20
- Padahal bukankah menjalani kenyataan betapa pun pahitnya masih lebih baik daripada berjalan di atas mimpi indah yang tak pernah bisa kamu miliki? Hal 23
- Ketika seseorang memanggil namamu, dan kamu merasa begitu tergetar karenanya, kamu tahu bukan hanya suaranya yang masuk ke telingamu. Hal 23
- Ia telah memanggilku tepat sampai ke titik terlemah di lubuk hatiku. Hal 23
- Hujan janganlah menjadi pertanda bagi air mata yang akan menitik ... Hal 25
- Malaikat ada dimana-mana. Kita hanya perlu jiwa yang bersih untuk menemukannya. Hal 27
- Ketulusan hanya punya satu bahasa. Hal 28
- Gembira itu sederhana. Hanya dengan menyederhanakan hidup. Hal 30
- Perlukah keputusan dibedakan salah atau benar, jika keduanya tetap akan membawamu menemukan kebenaran? Hal 39
- Kalau waktu pun tak lagi kau punya, tak ada apa pun lagi yang kau punya. Hal 55
- Diam pun bisa melukai. Karena kata-kata pun tak berhak menjadi milikmu. Hal 62
- Kepada angin yang berdesau, yang menceritakan kenangan, pahit, dan manis, aku telah berdamai dengan semuanya. Hal 64
- Ada indah yang hanya bisa kau abadikan di detak jantungmu. Hal 78
- Lebih dari tempat kau simpan harapanmu, lebih dari tempat kau tumpuk hasratmu, yang menyemburat, yang memercik, deras atau menetes, dangkal atau dalam, tempat ilusi dan emosi menemukan pintu. Di sanalah kau mengajakku masuk. Hal 79
- Bahagia memang harus diperjuangkan untuk menang. Hal 98
- Hati yang bersih adalah benih, perlu hari demi hari menumbuhkan. Hal 111
- Pagi adalah caraku mengatakan aku selalu ada untukmu. Hal 118
- Barangkali hidup harus seperti busur jangka, satu poros sebagai tumpuan, lalu berputar mengelilingi, hingga kembali ke titik pertama ketika semua dimulai, mempertemukan awal dan akhir, untuk mendapatkan lingkaran yang utuh. Hal 189
- Aku merasakan kesunyian itu, keheningan yang membuatmu bermimpi, tentang memiliki yang tak pernah dapat digenggam, tentang kehilangan tanpa pernah menemukan. Hal 196
- Karena aku adalah kamu, kamu adalah bagian diriku, yang menemukan dan mencari, dan memilih lelaki yang sama. Hal 197
- Terima kasih telah menyederhanakan hidupku. Terima kasih telah menyembuhkanku dengan caramu. Kamu membuatku menemukan sunyi dan bahagia. Hal 199
- Jika memiliki adalah melepaskan, aku telah melakukannya. Meninggalkanmu tak membuat waktu ikut pergi. Karena ternyata aku berhenti di sini, di kurun masa ini, tetap mengenangmu. Hal 203
- Angin bertiup kesana kemari, kamu tidak boleh percaya pada sesuatu yang tidak dapat digenggam. Hal 206
- Aku biarkan sungai mengalir deras dari mataku, membebaskan tangis yang sudah lama kukhianati. Hal 209

Ikut sedih untuk Sukma. Betapa yah kisah cintanya harus penuh liku seperti itu. Dengan Kiev, terhalang karena Kiev yang masih memiliki istri. Dengan Raka, pria yang tenang, tabah dan sederhana, tapi terhalang perbedaan adat dan budaya yang tidak bisa dianggap remeh oleh Sukma. Selain menceritakan kisah cinta Sukma, novel ini juga merincikan detail sejarah, budaya dan keindahan Ubud. Membuat aku yang belum pernah menginjak pulau Dewata jadi semakin penasaran. Tapi di pertengahan aku agak stuck, karena Andrei Aksana rupanya terlalu asyik menjabarkan kebudayaan Ubud dan mungkin lupa dengan kisah Sukma.

Tapi secara keseluruhan aku menyukai novel ini yang dikisahkan dengan tenang, detail dan bahasanya tidak bertele-tele. Dan pastinya aku juga akan mulai mengincar karya penulis yang lainnya.

3 of a 5 stars
 

Mells Book's Shelves © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor